Beberapa minggu terakhir gue pergi ke beberapa tempat wisata dan pusat perbelanjaan yang sudah lama banget gue nggak dateng mampir kesana. Kalau ditanya sih perasaannya cukup excited ketika akhirnya menginjakkan kaki ke tempat-tempat itu.
Ketika kembali datang ke tempat-tempat itu, gue berekspektasi kalau tempat itu masih menjadi pusat berkumpulnya orang-orang untuk berlibur, berbelanja, atau sekedar bersantap ria bersama keluarga dan teman.
Nyatanya, ketika akhirnya gue kembali kesana, semuanya terbalik 180 derajat. Tempat-tempat tersebut berubah menjadi nekropolis. Tempat yang dulu hampir di sepanjang mata memandang ada anterian manusia, sekarang kehadirannya bisa di hitung jari.
Seperti akhir tahun lalu ketika gue pergi berlibur ke sebuah pantai yang terkenal menjadi pusat turis sejak puluhan tahun lalu. Gue berpikir kalau akan banyak anterian mobil di sepanjang jalan karena turis yang ingin menikmati hembusan angin pantai yang hangat.
Namun, yang gue temukan justru keheningan dan beberapa mobil yang tampaknya merupakan milik warga lokal yang berlalu-lalang. Sudah tak tampak lokasi tersebut dikatakan sebagai destinasi wisata. Banyak sekali restoran yang tutup di sepanjang jalan. Villa dan hotel juga terlihat sepi. Bahkan, salah satu hotel terkenal yang menjadi ikon di daerah tersebut sekarang lebih viral di Tiktok sebagai hotel hantu.
Lalu kemarin, gue baru saja pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di daerah rumah gue. Pusat perbelanjaan ini dahulu dikenal sebagai "mal-nya orang kaya" di daerah rumah gue. Hampir seluruh anak gaul di daerah rumah gue hangout di sini. Mulai dari shopping, nonton, atau bermain arcade.
Waktu kecil, bokap dan nyokap minimal sebulan sekali ngajak gue untuk belanja bulanan di tempat tersebut. Tempat tersebut dahulu memiliki supermarket terbesar di daerah itu. Setelahnya, gue akan diajak untuk makan bakso malang di food court atau singgah di salah satu restoran yang menyajikan hidangan khas Hong Kong yang kemudian ditutup dengan membeli roti di salah satu pelopor roti kopi di Indonesia. Gue hapal di luar kepala setiap sisi layout di pusat perbelanjaan tersebut.
Hanya saja, ketika akhirnya kemarin gue kembali ke pusat perbelanjaan tersebut untuk nonton Avatar: The Fire and Ash. Gue melihat semuanya berubah. Memori masa kecil gue hilang semua. Nggak ada lagi tenant-tenant yang dulu gue kenal. Floor plan-nya sudah berubah. Pengunjungnya sepi.
Bahkan, supermarket yang dulu terbesar di sana, sekarang tinggal setengahnya. Bioskop yang dahulu ramai dengan orang-orang antri dan anak-anak yang bermain MT, Animal Kaiser, dan Mario Kart. Sekarang kosong tanpa antrian. Bahkan stafnya hanya ada tiga orang saja yang gue lihat.
Ini menyadarkan gue bahwa Nothing Lasts Forever kalau kita nggak bisa memperjuangkannya. Ini bukti karena terlalu nyaman dengan kejayaan masa lalu. Dalam dunia bisnis, kalau kita nggak bisa adaptasi dengan behaviour pelanggan, ya tinggal tunggu waktu gulung tikar.
Gue cukup prihatin melihat kondisi yang seperti itu. Gue memang melihat ada beberapa improvement yang mereka coba buat agar tempat-tempat tersebut bisa hidup kembali. Namun, Deep down gue merasa dengan mereka stripping down their old design, pelan-pelan itu juga ikut menghilangkan memori dan perasaan bahagia gue disana. fin.

Comments
Post a Comment