Cerita Setahun: Without You, I Could Never Make It (Bagian 2)



Akhirnya gue balik lagi buat nulis tentang apa saja yang sudah gue lalui di satu tahun terakhir. Seperti bagaimana seri tulisan ini berawal, yaitu tentang perjalanan gue sebagai mahasiswa S2, kegiatan yang sangat melelahkan tetapi juga memberikan banyak kesan yang sulit dilupakan. Ya, benar-benar sulit. Haha...

Rasanya kurang menarik kalo gue cuma memasukkan apa yang terjadi dengan gue di setahun terakhir. Gue pun memutuskan untuk menarik kembali sampai di awal gue masuk kuliah S2, tapi khusus ini hanya akan berbentuk foto-foto. Tulisan kali ini sepertinya tidak akan sekompleks dan sedramatisir bagian pertama (Cerita Setahun: Bag.1). Gue akan disclosed nama-nama orang yang menurut gue harus gue ceritakan, tidak seperti bagian pertama. Mungkin ini bagian dari self development gue aja yang memutuskan untuk keep it on the down low.

Jadi, gue akan membagikan foto-foto atau momen-momen di mana selama 2 tahun terakhir ini. Setiap foto yang akan gue bagikan punya cerita masing-masing. Namun, sebelum itu gue akan cerita "sedikit" dulu.

Dimulai dari gue yang seneng banget bisa kerja bareng teman-teman di Maia Digital. Masuk kantor selalu jadi hal yang menyenangkan buat gue saat itu. Gue terima kasih banget bisa dipertemukan dengan Maia Digital, bisa dibilang kerja disini jadi obat terbesar dari patah hati gue. Di sini gue dapet rekan kerja sekaligus dapet temen baru. Gue juga bisa dapet exposure langsung ke event besar dan bangga bisa jadi salah satu orang yang menyukseskan acara tersebut. 

Waktu kerja di Maia gue nggak cuma dateng ke kantor, kerja, terus pulang. Bisa kadang-kadang pulang kantor kami nongkrong di Krapela, bisa tiba-tiba ke karaoke night ke Kuningan terus lanjut ke PIK 2 sampe subuh cuma buat makan dan hampir ribut sama orang mabok, bisa juga tiba-tiba ke Pestapora tanpa persiapan apa-apa (Kulik Kilik Pestapora). Kerja di lantai 3 juga sangat menyenangkan, bisa denger Om Bram tiba-tiba marah-marah sendiri, Mas Oji yang sholatnya ternyata salah menghadap ke Kenya, suara ngorok Iam yang acapella, sampe Spotify Mas Iqbal yang nggak pernah mati dari pagi sampe malem.

Walaupun gue di kantor selalu keliatan nggak banyak omong, deep down gue happy banget setiap harinya saat harus berangkat ke kantor. Thank you Mas Ramiz, Mas Hafizh, Kak Heika, Megan, Acel, Joy, Fahmi, Gara, Sherina, Maurin, Mas Iqbal, Iam, dan orang-orang lantai 3 lainnya!

Oke, flashback sedikit gue mau cerita tentang riding gue ke Gunung Batu di Jonggol. Bisa dibilang ini perjalanan tolol gue bareng temen gue dari TK, Thaya. Gue yang pada saat itu sedang patah hati sepatah-patahnya akhirnya memutuskan untuk mengajak teman gue ini buat healing dengan riding ke daerah Puncak 2.

Perjalanan dari Cibubur ke Gunung Batu normalnya cuma satu jam setengah perjalanan. Nah, salahnya adalah gue mempercayakan Google Maps ke Thaya, nama temen gue. Gue percaya dengan arahan dari dia karena selama perjalanan masih banyak rumah warga. Selain itu, ada beberapa mobil dan motor yang juga seakan-akan mengarah ke atas. Tapi kepercayaan gue dihancurkan setelah gue menemui jalan berbatu yang kiri kananya hutan dan jurang. 

Disitu gue mulai nggak yakin, karena semakin ke dalem ternyata udah nggak ada jalan aspal. Hanya ada jalan batu yang ditutupin ilalang. Selama perjalanan kami berdua udah bete banget karena harus sering berhenti akibat sulit untuk berboncengan di jalan kecil, berbatu, dan kadang ada jalan tanah blok. Gue yang bawa motor harus jalan duluan karena medan yang sulit. Otomatis temen gue harus jalan kaki nyusul setiap 5 meter sekali. Mampus, Asu!!!

Namun yang membuat berkesan dari riding ini adalah karena beneran ada di tengah-tengah hutan pegunungan, gue bisa melihat burung elang liar sebesar kambing di depan mata gue sendiri. Bayangin aja ada kambing punya sayap lebar ada di atas pohon setinggi 5 meter. Pecah abis! Akhirnya kami sampai setelah hampir 3 jam perjalanan. Sesampainya di atas yang niatnya mau healing santai justru kami berdua hanya bengong sambil makan dan ngerokok saking capeknya.

Lanjut ke kegiatan gue di Himpaskom (Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi). Di semester 3 ini kegiatan gue di Himpaskom cukup padat. Divisi Media Sosial dan Kreatif bisa dibilang jadi tulang punggung agar Himpaskom bisa terlihat tetap aktif. Gue disini kerja bareng Annis dan Wisnu. 

Project yang paling menarik di Himpaskom sejauh ini adalah produksi video promosi untuk Merchandise Himpaskom dan dua project video untuk perkenalan Prodi Pascakom. Secara proses produksi sebenarnya sangat mudah karena semua talent kebetulan available at that time dan kebutuhan video yang tidak terlalu "demanding". 

Setelah tugas di Himpaskom selesai, kami digeser untuk melanjutkan event tahunan Festival Komunikasi (Feskom). Acara yang ternyata bikin pusing ini bisa selesai dengan baik adalah salah satu pencapaian. Banyak dinamika yang terjadi selama perjalanan Feskom ini. Mulai dari kekurangan crew, masalah dana, sampai gejolak internal. Namun, hal ini sepertinya biasa terjadi ketika menggelar suatu event, Mungkin kalo nggak ada Mas Aldo dan Mbak Hetty yang nge-carry, ini event udah kayak GudFest jilid II alias ancur nggak jadi.

Momen yang paling nggak bisa gue lupain selama Feskom adalah selama hampir sebulan selalu bolak-balik ke Kampus Depok cuma buat mengurus izin peminjaman fasilitas. Nggak nyangka akan seribet dan sangat memakan waktu itu. Untung ada Vira yang jadi tag team gue untuk bolak-balik ke Depok. Ibarat gue Triple H, Vira tuh Shawn Michael-nya. 

Gue bingung apalagi yang bisa gue tulis disini. Namun, rasanya kurang lengkap kalo nggak menulis soal romantic life. Jangan berharap sesuatu yang intens seperti bagian pertama, haha. Intinya, selama satu tahun gue berusaha untuk melewati "sadness and sorrow" setelah the truest feeling I've ever given to someone killed by my own expectations. Kayak gimana sih, lo tiba-tiba ketemu orang yang "once in a blue moon" di dalam hidup lo, share feelings and spend times together, tapi tiba-tiba juga harus selesai gitu aja. That's horrible!

Mikir udah bisa move on tapi ternyata gue cuma membohongi diri sendiri dan justru malah menyakiti orang lain. Untuk move onstep by step I have to let go my feelings for the girl I love and care the most by forcing myself to act like don't give a shit anymore. Slowly watching her pull away out of my life. I always feel grateful for that rendezvous. She may not be perfect, but I can elaborate a couple reasons of how adorable she is. I wish I could be the one who hold her down. She helps me learn a lot about myself.

Setelah setahun akhirnya gue mulai mendapatkan "spark" gue kembali. However, I'm not risking of losing the happiness and support I've gotten. Let's wrap this up! Sekarang, gue coba untuk menikmati hidup gue sambil fokus untuk improve diri gue sendiri, terutama untuk masa depan gue. Love will come when the time is right. 

Terakhir mungkin perkuliahan gue sendiri, inti dari cerita ini. Akhirnya gue sudah berada di akhir studi S2 gue. Dari yang dulu selalu menolak untuk lanjut S2 karena capek kuliah sampai sekarang tiba- tiba tesis sudah rampung. Satu hal yang bisa gue pastikan adalah bahwa S2 ternyata nggak sesulit itu, jauh lebih mudah dibanding S1. Gue mencoba untuk pertama kali menerapkan teknik wawancara dalam tesis gue, yang mana gue belum pernah melakukan ini sebelumnya di S1. Khawatir juga gue akan banyak kesulitan selama proses pengambilan sampai pengolahan data.

Setelah menyicil proposal dari bulan Agustus hingga dikebut di bulan Desember-Februari, proposal gue selesai dan ternyata setelahnya selama pengambilan dan pengolahan data nggak se-complicated itu. Gue akhirnya bisa sidang akhir tesis di minggu terakhir bulan Juni. 

Ujian ternyata nggak cuma datang dari penguji tapi juga dari gigi geraham bungsu gue yang tiba-tiba tumbuh persis satu minggu sebelum tanggal sidang gue. Gue memutuskan untuk cabut gigi dan ternyata harus melewati proses bedah mulut ringan karena ada impaksi gigi. Semoga aja nanti gue presentasi nggak kayak orang kumur-kumur karena sariawan yang selusin.

Tesis gue berjudul "Komunikasi Identitas dan Negosiasi Jati diri dalam Afinitas Musik: Studi Kasus Ayah Pekerja/Musisi di Jabodetabek". Gue punya kesempatan untuk mengulik sisi family man dari para musisi. Fun fact, gue hampir aja dapet Adnan ".Feast" sebagai salah satu informan gue. Sayangnya, ada satu kriteria informan yang ternyata kurang cocok sama profil dia. 

Gue juga berhasil menerbitkan dua artikel jurnal, salah satunya tentang industri musik. Gue nulis bareng temen gue, Sara, ngebahas komersialisasi platform musik online khususnya Spotify. Di sini, keinginan gue terwujud untuk bisa menulis banyak tulisan akademik tentang musik.

Sekarang gue tinggal menunggu waktu sidang dan wisuda. Dengan berakhirnya studi S2 gue, berakhir pula cerita ini. Namun, berakhirnya cerita bukan berarti gue stop menjalani hidup. Kayanya masih banyak hal yang bisa gue explorePeople said life ends at 27, and I'm still 25 tho.

Terima kasih untuk semua orang yang sudah memberikan support. Mbak Vina, Mas Danar, Cila, Pram, dan teman-teman lainnya. Mungkin lengkapnya ada di kata pengantar tesis gue. Without you, I could never make it. 

Fin.



































































Comments