Ini cerita dari sudut pandang laki-laki yang sedang menata hidup dan menemukan dirinya terjebak sebagai mahasiswa S2, yang mana hal itu justru menambah cerita baru di hidupnya, dari yang merasa ilmunya mulai dari nol, teman dekat di akhir pertemuan, sampai kisah cinta layaknya kisah Tom Hansen di film 500 Days of Summer.
Dilema Etis : Cari Kerja atau Balik Self Torturing?
Cerita gue kali ini akan dibagi menjadi tiga bagian utama yang menceritakan bagaimana gue melalui satu tahun kuliah S2. Mulai dari perkuliahan, pertemanan, sampai romansa.
Jadi, cerita dimulai dari Februari 202X. Waktu di mana gue baru 2 bulan wisuda dan selesai magang di salah satu tempat yang menjadi impian gue atau bahkan semua anak muda Jakarta yang mimpinya kerja di perusahaan Tech di kantor dengan concrete jungle view Jakarta.
Sebenarnya gue udah mulai kerja waktu itu, gue dapet kerjaan menjadi freelance news content writer di salah satu media online. Memang nggak terlalu prestisius, tetapi cukup untuk memulai karir gue yang masih anak bawang di kejamnya dunia nyata.
Long short story tiba-tiba gue dapet tawaran untuk lanjut S2 dari salah satu orang yang gue anggap sebagai "ayah kedua" gue. "Sanggup nggak ya gue?" "Yakali baru lulus kuliah lagi".
Setelah dilema panjang akhirnya gue mengiyakan tawaran itu dengan keyakinan yang nggak yakin-yakin banget.
Gua nggak pernah belajar buat tes seleksi S2 karena menurut gue ini nothing to lose aja. Setelah gue tes tiba-tiba ZHENGGGG...... SELAMAT ANDA LULUS SELEKSI. Setelah liat hasil, di mulut gue ngucap "Alhamdulillah", tapi dalem hati ngucap "An***g, gue S2".
Tapi gue bersyukur akhirnya gue bisa kuliah di kampus yang udah jadi crush gue sejak dulu. Ibaratnya menebus penyesalan gue yang dulu waktu SBMPTN nggak daftar ke universitas terbaik di Indonesia ini.
Sempat ada di dilema di hati gue yang mikir, "apa harus gue melanjutkan salah satu jenis self torturing ini?" "Bukankah aku harus mencari uang, membeli mobil, membeli rumah, dan memacari perempuan cantik dan seksi layaknya pria di luar sana?"
Setelah banyak ngomong sendiri dan ngomong sama yang di atas, gue memutuskan untuk ambil kesempatan ini, karena kebetulan bokap juga mau at least ada satu orang di keluarganya yang bisa dapet gelar "Master".
Akhirnya gue terima hasil itu dengan ikhlas dan melanjutkan hidup gue tanpa mikirin gimana gue nanti bisa survive kedepannya.
Kuliah, Akademis, dan Lika-Liku Anak Baru
Tiba waktunya bagi gue untuk masuk kuliah. Gue harus ikut kelas pengenalan dulu karena jurusan S1 gue nggak linier. Fyi, gue di sini ambil kembali ambil jurusan ilmu sosial karena gue pikir ini yang paling gampang.
Selama kelas pengenalan, gue jujur merasa sangat goblok karena gua yang dulu selalu bahas politik global, tiba-tiba harus berurusan dengan hubungan manusia. Si nyambung kan tuh. Gue nggak tahu sama sekali soal ilmu baru ini. Buta sebuta-butanya. Tapi pada akhirnya gue bisa ngelewatin ini juga.
Oke masuk ke hari pertama kuliah. Semua matkul yang gue dapet di sini adalah hal baru. Semester satu ini gue agak struggling untuk memulai.
Ada beberapaa matkul yang menurut gue menarik di semester satu. Ada matkul Identiitas yang materinya cukup seru, tetapi selama prosesnya bikin deg-degan juga karena dapet informasi kalo tugas review mingguan kami sekelas nilainya cuma mentok di 75.
Mulai deg-degan lah kami sekelas. Anak-anak sekelas pun mulai kejar nilai lewat presentasi, pertanyaan, dan UAS. Tapi untungnya, gue dan anak-anak kelas berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.
Lalu ada matkul Teori dan Penelitian Kuantitatif. Di sini gue sekelompok bareng Vani dan Bintang, plus Halmi buat matkul Penelitian Kuantitatif.
Matkul Teori ini salah satu matkul yang bikin gue was-was. Bukan selama proses perkuliahannya. Namun UAS nya yang mengharuskan gue bikin paper format jurnal untuk pertama kalinya.
Agak laen juga nih. Gue yang first timer di ilmu baru ini tiba-tiba harus bikin jurnal dengan teori yang baru banget gue pelajarin. Untungnya, gue berhasil lewatin dua minggu deadline bagaikan neraka hawiyyah tersebut dengan lancar.
Justru Penelitian Kuantitatif ini yang berdarah-darah selama prosesnya. Kami berempat dateng dari latar belakang yang nggak pernah nyentuh SPSS dan VosViewer dan di sini kami dipaksa harus bikin penelitian pake metode kuantitatif.
Dan tahu gimana akhirnya, bener aja hasil uji regresi dan validitas kami tidak signifikan. Jadi kesannya kayak penelitian gagal huhu. Ditambah kami yang telat submit UAS yang ngebuat kami cuma dapet nilai B+ untuk matkul ini. Tapi so far ini jadi unforgettable moment sih buat gue.
Dua matkul lainnya yaitu Media dan Filsafat. Nggak ada pengalaman yang spesial di dua matkul ini, tapi nilainya the best ever sih. Shout out to dosen pengampu dua matkul ini.
Masuk ke semester dua. Di awal semester ini, gue udah kalah war dan akhirnya gagal dapet kelas yang gue mau. Gue harus ikhlas ada di dua kelas yang sangat dihindarin oleh anak-anak.
Ada dua matkul yang gue cukup struggle tapi turns out dua matkul ini yang justru yang menjadi cerita penting gue selama kuliah S2. Dua matkul itu Penelitian Kualitatif dan Teknologi.
Gue masuk kelas Penelitian Kualitatif dengan lapang dada. Di sini gue kembali sekelompok dengan Vani ditambah Damar dan Kiara. Dari awal matkul, kami sudah kebingungan berat waktu penentuan topik.
Sepanjang perkuliahan, gue dan temen-temen mati-matian ngumpulin data, wawancara informan, coding, sampai analisis. Nggak ada sehari pun tanpa ngucapin kata "ANJRITT" selama finishing ini. Alhamdulillah-nya, kami berhasil bungkus penelitian ini bahkan 5 hari sebelum waktu pengumpulan UAS.
Matkul selanjutnya ada Teknologi. Di sini gue sekelompok berdua bareng Kiara. Ini juga salah satu matkul sadis karena gue dan Kiara harus buat paper 1000 kata tiap minggunya. Luckily, kami ngerjain ini berkelompok.
UTS pun kami harus buat Systematic Literature Review yang menurut kami ini asing banget. Untuk UAS, kami harus buat paper format jurnal sembari masih menyiapkan beberapa presentasi. This shit really drained our energies.
Tapi sekali lagi, dengan kerja sama layaknya pit stop F1, kami berhasil melakukan take over dan nyentuh garis finish.
Matkul selanjutnya adalah Budaya. Matkul ini adalah matkul yang paling asik. Mulai dari dosen, materi, sampai environment kelas yang sangat suportif.
Di matkul ini juga ada cerita lucu, iya lucu. Jadi ada satu orang di kelas kami yang setiap ngomong tuh selalu ngawur. Out of topic, out of planet malahan. Tapi kami nggak pernah bully dia yaa. Ini jadi inside jokes kami aja kalo di tongkrongan.
Duat matkul lainnya adalah Industri dan Teks. Matkul Industri ini menarik karena di sini gue merasakan zen, ketenangan, dan kondusif. Ditambah dosennya mirip almarhum nyokap jadi gue cukup merasa happy.
Di matkul industri ini gue juga sekelompok sama orang-orang deadliner. Bayangin, ngerjain paper 10 jam sebelum waktu pengumpulan!!! Terus kalo Matkul Teks, gue males lah bahasnya. Kurang menarik dan sensitif kalo gue ceritain.
Terakhir, gue juga gabung Himpunan Mahasiswa S2. Ya ini kayak himpunan mahasiswa biasa gitu. Emang sih nggak kayak himpunan waktu S1 yang banyak prokernya, tapi karena di sini gue gabung Divisi Media Sosial dan Kreatif yang bikin gue bisa develop soft skills gue.
Pertemanan yang Terlambat Dekat
Bagian ini akan gue fokuskan pada empat orang yang menurut gue sangat mengisi perkuliahan gue yang singkat ini. Nanti akan ada Vani, Damar, Lisa, dan Kiara.
Kita mulai dari Vani. Gue pertama kali kenal Vani waktu kelas pengenalan. Sebagai gambaran, Vani ini orangnya tenang, cool, dan kepribadiannya kalo diliat ada di antara maskulin dan feminim.
Di kelas juga, Vani ini orangnya kritis dan pinter tapi tetap humble. Selama sekelompok dengan Vani, gue juga sangat happy bisa belajar banyak dari dia.
Selama semester satu gue nggak terlalu banyak ngobrol dengan Vani. Gue ngobrol sebatas karena teman kuliah dan kebetulan kami sekelompok juga kan. Mungkin karena perbedaan umur kami yang buat gue waktu itu agak sungkan sama Vani.
Semester dua gue dan Vani lagi-lagi ambil empat matkul yang sama dan itu membuat kami jadi sering nongkrong sehabis kelas.
Ada satu hal yang gue baru tau waktu gue kenal semakin deket sama Vani. DIA SUKA NGEGOSIP!!!. Emang ya, namanya cewek nggak semua sama aja wkwkwk. Seketika runtuh semua tuh Vani yang cool dan chill. Vani ternyata juga suka sebat dan itu jadi satu nilai plus sih buat dia kalo menurut gue.
Vani ini menurut gue orangnya cukup wise. Gue percaya untuk cerita masalah pribadi gue ke dia. Gue ini sebelumnya bukan orang yang nyaman untuk curhat masalah pribadi gue ke orang lain.
Tapi, karena gue melihat sosok kakak perempuan ada di Vani, yang mana gue nggak pernah punya, itu yang buat gue akhirnya meruntuhkan tembok gue.
Satu hal lain yang gue lihat dari Vani. Dia adalah orang yang sangat compassionate. Jadi, ada waktu satu orang di kelompok kami yang memang jarang ikut kerja kelompok karena sakit dan urusan pribadinya.
Rather than julid dan talk shit tentang orang itu, justru Vani sangat suportif. Vani selalu tanya kabar dan kondisi orang tersebut. Buat Vani, semoga lo bahagia dan bisa membahagiakan orang tua lo terus. Shout out to Vani, respect gue sama lo!!!
Lanjut ke Damar. Gue kenal Damar juga sejak kelas pengenalan. Sebagai gambaran, Damar ini orangnya gemuk dan selalu pake tas selempang kecil. Dia juga seorang live streamer di Youtube walaupun penontonnya sedikit tapi ada lah yang nonton.
Damar ini jadi salah satu orang yang gue ajak ngobrol pertama kali di kampus. Kami punya kesamaan ketertarikan sama politik yang buat gue sama Damar akhirnya jadi cepet nyambung. Gue dan Damar juga akhirnya satu kelompok waktu semester 2 dan negbuat kita jadi lebih sering nongkrong bareng.
Ada yang unik dari Damar ini, dia kalo ngomong tuh kadang suka lupa ngerem alias panjang banget wkwkwk. Ini orang punya banyak pengalaman unik yang bisa jadi bahan cerita dan ceng-cengan kalo lagi nongkrong dan yang pasti orangnya nggak baperan karena dia udah banyak berdamai sama masa lalunya, katanya sih gitu.
Kalo di kelas Damar ini bisa gue bilang mirip kayak Vani. Dia pinter tapi tetep humble. Ngerti nggak sih, nih orang berdua tuh kayak ada isinya tapi nggak mau show off kalo di kelas. Ngomong ya seperlunya aja. Selama kerja kelompok bareng Damar pun gue melihat ada banyak ide di dalam kepalanya.
Damar juga salah satu orang yang gue akhirnya curhatin setelah Vani. Gue mencari validasi ego laki-laki gue dari dia, ya karena emang kita sama-sama cowo, ada sharing values yang sama secara naluriah antara gue dan dia.
Buat Damar, yang udah gue anggep sebagai abang sendiri, semoga penonton live streaming lo tambah banyak, bahagia terus, dan sukses jaya, jaya, jaya. Shout out to Damar!!!
Lanjut ke Lisa. Gue dan Lisa ini sebenernya nggak pernah ngobrol panjang lebar selama semester satu. Ya kita ngobrol cuma kalo ada perlu aja. As simple as that.
Namun sejak semester dua, kami ambil tiga matkul yang sama dan sekali lagi itu yang pada akhirnya membuat kami lebih dekat. Kami jadi sering nongkrong sehabis kelas.
Sebagai gambaran, Lisa ini orangnya berhijab, berisik, bawel, pokoknya tampilan islami tapi mulutnya harus dibasmi.
Lisa ini orangnya cukup straightforward, dia akan mengungkapkan apapun yang ada di kepalanya. Sama juga di kelas, ini anak cukup kritis dan paham ilmu sosial satu ini. Makanya, gue agak hati-hati kalo ngomongin materi kuliah sama dia, takut kebanting, bos.
Sejak kenal Lisa lebih dekat, gue baru tahu ternyata si Lisa ini sangat BACOTTT. Ini anak satu energinya nggak pernah abis, dia juga selalu ada cerita buat jadi bahan obrolan di tongkrongan. Lisa ini ibarat intelijen, ya sekelas agen CIA lah kalo soal ghibah.
Gue juga beberapa kali deeptalk bareng Lisa, Damar, dan Vani. Lisa ini adalah orang yang sangat care sama temannya. Waktu gue sedang tidak baik-baik saja, dia bahkan notice tanpa gue beritahu.
Walaupun Lisa selalu terlihat ceria dan gembira di depan teman-temannya, sebenarnya ada banyak beban masalah yang dia tanggung dan itu buat gue respect sama dia. Shout out to Lisa. You're very nice, strong, and adorable woman!!!
Gue juga mau berterima kasih sama teman-teman, kakak-kakak, abang-abang gue yang lainnya yang nggak bisa gue sebut satu persatu namanya. Terima kasih sudah jalanin semua ini bareng-bareng.
Jatuh Cinta Seperti di Film-Film yang Sad Ending
Di bagian kedua gue sebut akan berfokus sama empat orang, tapi gue baru sebut tiga. Bagian ini akan gue buat khusus karena ceritanya yang lebih kompleks buat gue pribadi. Iya, ini bagian khusus buat gue ceritain Kiara.
Gue kenal Kiara nggak se-lama seperti gue kenal sama Vani, Damar, dan Lisa. Kiara bukan anak baru. Dia ini anak lama yang baru masuk.
Hari pertama gue ngeliat Kiara sebelum masuk semester dua, gue udah ngeliat Kiara ini secara penampilan memang menarik, ya cantik lah. Tapi udah sebatas itu aja, sama kayak gue ngeliat cewe cantik di Senayan City atau coffee shop over price.
Sebagai gambaran Kiara ini orangnya kecil, punya looks Indo, matanya kayak mata Amanda Seyfried dan senyumnya mirip senyuman Margot Robbie.
Kiara orangnya baik, bicaranya lembut, dan dia selalu jadi orang yang pemalu kalau harus presentasi di depan kelas.
Mulai nih hari pertama kuliah semester dua. Karena anak lama yang baru masuk, dia pun jadi nggak kenal dengan anak-anak yang notabene udah pada bonding. Kiara ini duluan kenal sama salah satu temen gue di Himpunan karena kebetulan mereka satu divisi. Ya intinya temen gue ini nitip Kiara buat satu kelompok sama gue dan gue iyakan karena kebetulan masih ada slot kosong.
Selama di kelas pun nggak ada interaksi khusus antara gue dan Kiara, ya karena kita baru kenal dan belum terlalu deket aja. Interaksi kami mulai bertambah setelah gue dan Kiara sekelompok di matkul Teknologi.
Disitu kami jadi mulai banyak ngobrol, tapi masih soal materi kuliah, Ditambah, kami juga sekelompok di matkul lain yang membuat intensitas pertemuan kami jadi cukup sering.
Gue, Kiara, dan dua teman gue lainnya siang setelah kuliah sempat nongkrong lama di dekat kampus. Disitu Kiara cerita dia suka dengan grup musik Hindia dan itu awal mula gue chat dia di luar urusan kuliah. Itu pun karena gue cuma nge-share info soal festival musik yang ada Hindia-nya.
Menjelang minggu UTS, Kiara mengajak gue untuk kerja kelompok di luar dan gue iyakan karena gue butuh suasana baru juga buat nugas sekaligus bonding sama teman baru gue.
Setelah selesai kerja kelompok bareng di salah satu coffee shop di bilangan Jakarta Pusat, gue dan Kiara bergeser untuk makan malam di salah satu foodcourt yang ada di wilayah Sudirman. Foodcourt-nya cukup ramai, sulit buat kami saat itu untuk sekedar cari meja kosong.
Setelah dapet meja kosong dan pesan makanan. Kami mulai ngobrol banyak saat itu, bukan deeptalk, sekedar ngobrol pengalaman kami dulu waktu S1 dan cita-cita kami kalo nanti lulus S2. Selesai ngobrol kurang lebih 1,5 jam kami pun pulang.
Sejak saat itu, chat kami menjadi mulai lebih intens lagi, Lagi-lagi nggak ada intensi apapun, pure friendship. Gue dan Kiara mulai bertukar kabar ya karena gue melihat dia sendirian di Jakarta dan baru menghadapi masalah pribadi yang cukup berat.
Singkat cerita gue mengajak Kiara untuk buka puasa di salah satu tempat nongkrong hits anak Jaksel. Setelah buka puasa, kami berjalan ke salah satu spot yang paling ramai di daerah tersebut. Di sana gue menemani Kiara melihat-lihat satu barang yang gue pikir Kiara sangat suka barang itu, tapi entah kenapa dia nggak jadi beli itu barang.
Di sana Kiara juga mengajak gue ke photobooth, tempat yang nggak akan gue datengin dan nggak akan kepikiran aja dan iya gue diajak untuk foto berdua bareng dia di sana. Jujur saat itu gue mulai ada sedikit spark sama Kiara ini dan gue merasa nyaman ada di dekat dia.
Hari itu kami lanjutkan dengan makan Gelato, gue inisiatif ajak dia ke kedai Gelato karena dia bilang dia suka Gelato dan dulu di tempat itu ada kedai Gelato favoritnya yang ternyata sudah lama tutup.
Di sini gong-nya. Waktu gue dan Kiara antre Gelato, kami biasa ngobrol dan ketawa-ketawa sampai akhirnya nggak sengaja gue tatap matanya dan liat senyumnya, "Brengsek, gue jatuh cinta", itu kata yang muncul di benak gue.
Gue yang masih terkagum sama dia coba untuk tetap tenang dan biasa aja. Hari itu kami berdua lanjutkan dengan ngobrol panjang sembari melahap Gelato yang terus menerus mencair.
Kiara banyak cerita tentang dirinya, mulai dari hal-hal yang dia suka sampai masalah pribadinya. Mungkin itu yang pada akhirnya membuat gue jadi cukup attach dengan Kiara.
Sejak saat itu kami mulai semakin dekat, chat menjadi lebih intens, beberapa kali gue dan Kiara juga makan dan nongkrong berdua. Di kelas, kami jadi sering duduk bersebelahan. Gue sering anter dia nunggu ojek online selesai kelas, Gue merasa bahagia ada di dekat dia, dia bawa vibes positif buat gue.
Cerita indah ini berlangsung selama sekitar 2,5 bulan. Di rentang waktu gue kenal dia tersebut, Kiara memang sering sakit dan banyak tidur tetapi intensitas chat kami bisa dibilang cukup tinggi. Namun, ada satu waktu di mana gue merasa semua itu berubah.
Kiara jadi jarang bales chat gue, gue berpikir karena memang dia lagi sakit aja dan gue memaklumi hal itu. Selain itu, Kiara yang awalnya banyak berbagi cerita dia lewat chat, mulai hanya bertanya jika ada urusan perkuliahan. Gue tetap bertanya keadaanya setiap hari, dia juga menjawab, tetapi hanya ketika gue tanya.
Setelah gue nggak tahan dengan perubahan ini dan banyak curhat ke orang yang gue percaya sedikit banyak tahu soal hubungan gue dan Kiara. Akhirnya gue memutuskan untuk mengungkapkan perasaan gue ke Kiara.
Di tengah jalan Sudirman, di bawah city light Jakarta, gue berboncengan motor sama Kiara. Gue ungkapin perasaan gue di sana. Kemudian, Jrenggg... gue ditolak. Kiara memang nggak menolak gue secara langsung, dia chat gue setelah gue anter dia pulang. Singkatnya ada dua alasan dia menolak gue, satu alasan bisa gue terima, dan satu alasan lainnya yang bisa dibilang sampai sekarang gue belum ikhlas.
Sebenernya gue udah siapin barang yang dulu sempat dia mau beli tapi nggak jadi itu sebagai surprise buat dia. Ya tapi gimana, namanya hidup, manusia bisa berencana tapi tetap tuhan yang berkehendak. Nggak jadi lah barang itu gue kasih ke dia, Tapi akhirnya barang itu tetap gue kasih ke dia di lain hari karena it was meant to be hers.
Sejak saat itu hubungan kami menjadi semakin renggang dan kembali seperti dulu awal kenal. Dia mungkin coba menjaga jarak dan gue melakukan hal yang sama. But we're still friends, Kami masih kontakan, walaupun kalau memang ada perlu aja.
Intinya gue bahagia bisa dekat dengan Kiara walaupun ending-nya seperti di film-film sad ending yang musik latar belakangnya pake lagu Dewa 19 - "Pupus". Jujur, seumur-umur gue nggak pernah galau-in cewek separah ini.
Kiara hadir sebagai orang yang ngisi kekosongan yang selama ini gue nggak dapet dari pasangan-pasangan gue sebelumnya. Ada behaviour almarhum nyokap yang membuat gue merasa jadi someone to rely on yang gue lihat ada di Kiara. Banyak first experience yang gue dapet dari Kiara. Hal terberat buat gue sendiri bukan penolakannya Kiara, tetapi dia yang tiba-tiba hilang dari hari-hari gue.
Terima kasih sudah mengisi hari-hari gue. Semoga lo bahagia, bisa menjalankan hidup sesuai yang lo mau, selalu sehat, bisa ngelewatin trauma dan masalah lo, dan semoga bisa nonton konsernya Hindia. You're really such a kind person. Shout out to Kiara.
Akhir dari Awal atau Awal dari Akhir?
Setelah itu gue harus melanjutkan kehidupan gue. Walaupun gue sedih karena harus pisah dalam waktu yang lama dengan teman-teman kuliah gue dan nggak berhasil dapetin cinta orang yang gue sayang. Sekarang, semua gue bawa enjoy aja.
Banyak hal yang harus gue persiapkan untuk hidup gue kedepannya. Mulai dari terbitin jurnal, menyusun proposal tesis dan start menulis tesis, sampai gue yang harus balik cari kerja lagi untuk memulai kembali perjalanan karir gue yang sempat terhenti sejenak.
Gue percaya ini bukan akhir dari awal perjalanan hidup gue. Gue akan tetap bertemu dengan teman-teman gue di masa depan, gue akan buka hati lagi dan bertemu pasangan yang bisa nerima gue, gue akan dapat pekerjaan impian gue, gue akan lulus S2 dan dapet gelas M.Si, gue akan bisa beli mobil dan nge-hire supir karena gue males macet-macetan di Jakarta, dan gue akan bisa ngebahagiain keluarga gue.
Ini semua adalah awal dari akhir perjalanan hidup gue......

Comments
Post a Comment