Romantisasi Hujan Itu Akal-Akalan Orang Kaya 'Ngehe'!

Tulisan opini gue kali ini mungkin sedikit banyak akan bertentangan dengan value yang ada di masyarakat. Gue dulu pernah punya pemikiran yang menganggap bahwa hujan adalah berkah dan cocok untuk diromantisasi dan dramatisir. Bagi beberapa orang, hujan dianggap memberikan ketenangan, cocok untuk berdiam sejenak sembari berpikir. Beberapa orang lainnya menganggap hujan membawa kembali atau recalling past memories. Kalian harus tahu kalo anggapan tersebut sangat "Ngehe!"

Sejak akhir tahun 2025, Jakarta dan sebagian besar wilayah di Indonesia diguyur hujan dengan intensitas yang cukup tinggi. Bagian terbaiknya adalah suhu udara menjadi cukup sejuk, berbanding terbalik dengan beberapa bulan sebelumnya yang mana teriknya matahari membakar mulai dari ubun-ubun kepala sampai ke mata kaki. 

Momen tersebut banyak digunakan oleh orang-orang untuk mulai meromantisasi hujan. Bagaikan akhir penantian pujangga yang menunggu jodohnya. Instastory dan video Tiktok mulai menuliskan kata-kata manis. Sayangnya, bulan madu tersebut tidak bertahan lama. 

Intensitas hujan yang cukup tinggi mulai menganggu aktivitas gue sehari-hari. Gua yang sehari-hari berangkat menggunakan sepeda motor dengan estimasi waktu perjalanan berangkat 90 menit dan perjalanan pulang 120 menit, harus menempuh waktu yang lebih lama akibat hujan di waktu yang kurang tepat.

Paling parah adalah sekitar 2 minggu lalu. Perjalanan gue dari kantor hari itu memakan waktu 3 JAM PERJALANAN!!! Jika dihitung-hitung, itu sama dengan perjalanan dari Jakarta ke Purwakarta melintasi jalan tol. Kemacetan tersebut diperparah dengan hujan yang tak kunjung reda sepanjang perjalanan.

Gue melihat bahwa alasan mengapa ketika hujan selalu terjadi kemacetan adalah karena pengendara yang cenderung melambatkan kendaraannya dan orang-orang yang memutuskan naik mobil karena tidak ingin kebasahan.

Pemprov DKI Jakarta mengungkapkan bahwa potensi kerugian akibat kemacetan di Jakarta itu hampir Rp100 Triliun. Kerugian ini paling dirasakan oleh para kelas pekerja, mulai dari pekerja kerah biru sampai pekerja kantoran kayak gue yang setiap hari harus commute menggunakan sepeda motor atau kendaraan umum. Kami harus mengorbankan uang dan juga waktu.

Memang terasa nggak adil kalo gue hanya menyalahkan hujan yang menyebabkan kemacetan dan baju lepek sampai kantor. Toh hujan sudah ada dari sejak big bang membentuk bumi. Adapun yang ingin gue tekankan adalah stop meromantisasi hujan. Buat gue kelas pekerja, ini sangat menghambat produktivitas dan semangat. Hujan memang rezeki, tapi apa salahnya mengeluh pada sesuatu yang justru mengganggu aktivitas sehari-hari? fin.


Comments