Tinggal di kota besar seperti Jakarta sudah pasti harus banyak bersinggungan dengan orang lain, baik di tempat kerja, mall, bahkan jalan raya. Berkendara di jalan protokol ibukota itu menuntut kesabaran yang besar. Semua orang buru-buru ingin sampai tempat tujuan, sedangkan kendaraan di jalan raya sangat padat.
Mungkin saja berkendara dengan kondisi seperti itu bisa tidak terlalu stressful apabila semua pengendara bisa mematuhi rambu serta marka jalan, atau paling tidak mengerti etika berkendara yang baik di tengah sibuknya lalu lintas.
Masalahnya, terlalu banyak pengendara "tolol" yang berkendara seenaknya saja. Contoh pertama adalah motor yang memaksa masuk di belokan padahal moncong mobil sudah masuk terlebih dahulu. Ini sering banget ditemuin dan bikin kita yang bawa mobil tuh kaget atau buruk-buruknya nyerempet itu motor. Ujung-ujungnya pengendara mobil yang suruh tanggung jawab, padahal pengendara motor yang goblok nggak sabaran.
Kedua adalah asal potong jalan. Tiba-tiba ke kanan, tiba-tiba ke kiri. Walaupun sudah menyalakan lampu sein, tetap saja yang namanya mobil tidak bisa sembarangan rem mendadak atau banting stir. Ini banyak banget ditemuin di pengendara perempuan, walaupun ada juga laki-laki yang bego.


Comments
Post a Comment