Skill Nyetir Bertambah Setelah Menaklukan Si Jembatan Kuning!


Skill gue dalam mengendarai mobil akhirnya bisa ter-upgrade. Gue yang bertahun-tahun bawa mobil cuma di daerah perkotaan yang cuma berkutat dengan jalan lurus dan macetnya. Nabrak, keserempet, papasan sama pengendara tolol yang bikin gue hampir berkali-kali berantem di jalan udah bukan lagi tantangan tapi jadi survival skill aja.

Waktu kecil gue setiap lebaran beberapa kali mudik ke Lampung. Setiap ke Lampung, otomatis gue harus naik kapal ferry. Kapal ferry itu punya dua tempat untuk menampung mobil, ada di lambung kapal dan di deck atas. Mobil yang ingin parkir di deck atas itu harus naik semacam jembatan warna kuning yang menyambungkan dermaga dengan kapal ferry. 

Gue selalu amaze setiap mobil bokap melintasi jembatan tersebut. Itu karena secara nggak langsung mobil kita melintas di atas laut, di jalur yang sempit dan curam. Itu adalah bagian yang selalu gue tunggu tiap kali mobil on board ke kapal. 

Akhirnya di lebaran kemarin, gue punya kesempatan untuk menyempurnakan perjalanan spiritual menyetir mobil setelah gue dapat kesempatan melintasi jembatan kuning tersebut. Ketika berangkat, gue cukup kecewa karena hanya kebagian parkir di lambung kapal. Untungnya, ketika perjalanan kembali ke Jakarta, gue diarahkan untuk parkir di deck atas. 

Ketika mobil baris untuk siap satu persatu naik ke atas kapal, gue menunggu dengan perasaan excited. Kayak, anjrit ini teh kesampean juga akhirnya. Ketika giliran gue untuk siap-siap naik. Gue mulai deg-degan. Untungnya ada kakak gue yang siap-siap ngasih arahan, takut-takut itu mobil nabrak railing dan berakhir nyebur ke laut seperti yang ada di berita-berita. Selain itu, yang bikin tambah deg-degan adalah yang gue bawa ini adalah bukan mobil gue, jadi tanggung jawabnya semakin besar. Jujur, beberapa bulan sebelumnya sempat ramai ada mobil yang nyebur di jembatan kuning tersebut karena sambungannya yang terputus akibat ombak besar.


Pada akhirnya sampailah giliran gue, gue buka kaca sembari ngasih boarding pass ke petugas  gue injak pedal gas dengan sangat presisi, harus setengah injak karena cukup curam. Gue harus memastikan bahwa gue tidak menginjak pedal gas terlalu dalam karena kalo iya, bisa dipastikan akan ada adegan mobil terbang ala John Wick dan Mission Impossible. Setelah 5 meter menanjak, gue harus ambil kiri dengan sangat hati-hati karena jujur bukan karena takut ini mobil lecet tapi takut ini mobil tiba-tiba diving. 

Dan setelah berbelok dengan sangat hati-hati gue pun berhasil melewati salah satu tantangan terbesar dalam pengalaman nyetir mobil gue. Gue berhasil menaklukan jembatan yang udah dari kecil seakan-akan menantang gue untuk ditakluki. Berhasil naik, gue parkir mobil dengan rapi dan lanjut makan Pop Mie untuk merayakan upgrade-nya skill menyetir gue.

Sebenarnya, gue pengen banget nyetir melewati Jalan Lintas Sumatera yang mana terkenal banyak banget truk terbalik setiap melewati jalur tersebut. Sayangnya, karena sudah ada jalan tol tantangan tersebut jadi belum sempat gue jajal. Gue hanya bisa merasakan sekitar 5-6 kilometer jalan pedesaan Sumatera yang aspalnya setara sirkuit Silverstone alias banyak lobangnya tuh jalan.

Peningkatan skill gue selanjutnya adalah mencoba trek off road. Gue udah mencoba hal tersebut menggunakan motor biasa yang mana ceritanya akan gue lanjutin di blog gue yang selanjutnya yang akan publish 2 minggu lagi. Gue merasa dengan gue bisa nyetir di jalur off road, the deadliest road in the world yang ada di Bolivia pun bisa gue lewatin..fin


Comments