Jadi, hari ini baru aja selesai rewatch dan menamatkan salah satu serial tv terpecah sepanjang sejarah pertelevisian dunia. Sebagai clue, serial ini bercerita tentang beberapa orang yang mengaku dirinya berhak atas sebuah singgasana dan mereka secara langsung terlibat konflik untuk memperebutkannya. Untuk yang sudah pernah menonton mungkin sinopsis tadi secara mudah bisa langsung tertebak. Ya, serial itu bernama "Game of Thrones".
Game of Thrones ini bisa dibilang selalu bikin kangen, susah dilupakan, mempermainkan emosional, sama seperti orang yang nggak bisa kita miliki. Terhitung ini sudah keempat kalinya gue menamatkan serial yang nggak kenal ampun itu. Bagaimana tidak, bisa-bisanya karakter yang muncul paling pertama dan kita kira dia adalah pahlawan dari seluruh alur cerita, tiba-tiba kepalanya dipenggal di tengah-tengah season.
Di sini mungkin gue akan coba fokus ke empat house yang jadi fokus cerita di serial ini, karena kalo bahas semuanya sama aja kayak nunggu DM gue dibales sama Tatjana Saphira. Empat house itu adalah Lannister, Baratheon, Stark, dan Targaryen. Interaksi dan friksi dari keempat house ini akan coba gue bahas dari sisi mulai dari politik, hubungan internasional sampai ilmu komunikasi as gue calon master Ilmu Komunikasi yakali nggak bisa lihat ini dari perspektif Ilkom.
Perpolitikan di Game of Thrones ini sebenarnya simple aja, seperti aktor politik pada umumnya, para lord dan lady ini cuma memikirkan interest kelompok mereka masing-masing aja. Namun, gue melihat bahwa untuk ukuran serial televisi, ini bisa dibilang cukup kompleks. Mulai dari House of Lannister yang berusaha mempertahankan kekuasaan sebagai penguasa Seven Kingdom. House of Baratheon yang dipimpin Stannis Baratheon yang berusaha merebut kembali kekuasaan setelah raja sebelumnya, Robert Baratheon, yang dibunuh oleh istrinya sendiri, Cersei Lannister. Lalu ada Daenerys Targaryen yang berjuang mengembalikan Dinasti Targaryen yang sudah ribuan tahun menguasai Seven Kingdom tetapi tiba-tiba digulingkan oleh Robert Baratheon dengan bantuan Ned Stark, pemimpin dari House of Stark .
Gue menangkap bahwa komunikasi dan diplomasi antara tiap kekuatan tadi benar-benar tidak berfungsi dengan baik. Ini terlihat dari ego masing-masing pemimpin yang terlalu tinggi, kecuali House of Stark, yang sepanjang penayangan serial selalu mengambil peran sebagai kelompok yang protagonis. Dengan keras kepalanya mereka juga yang akhirnya justru menuntun House of Lannister, House of Baratheon, dan House of Targaryen harus hancur dan tidak bisa menjadi pemimpin di Kings Landing (ibukota Seven Kingdom).
Selanjutnya yang menarik buat gue adalah penggambaran kekuasaan Liberal vs Konservatif yang digambarkan dengan dramatis. Ini bisa dilihat di Game of Thrones season 5. Bagaimana kekuasaan konservatif yang diwakilkan oleh kelompok agama bersaing dengan kelompok liberal yang dipimpin oleh Cersei Lannister. Fanatik agama yang diberikan kekuasaan penuh di sini diperlihatkan hanya akan mengarah pada kehancuran, karena kelompok ini cenderung mengedepankan ayat-ayat dan peraturan agama ketimbang hukum formal yang sudah ada di masyarakat selama beratus-ratus tahun. Ada kesemena-menaan terhadap orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka. Hingga pada akhirnya, Cersei Lannister yang sempat menjadi korban kefanatikan ini menghancurkan kuil suci (Sept of Baelor) beserta seluruh para fanatik agama dengan menggunakan bom.
Hal terakhir yang mencuri perhatian gue adalah episode ketika Cersei Lannister dan Daenerys Targaryen akan bertemu untuk melakukan negosiasi gencatam senjata. Saat itu, Cersei Lannister mengundang musuh terbesarnya tersebut untuk melakukan pertemuan di tengah-tengah reruntuhan Sept of Baelor yang sebelumnya dibom olehnya. Komunikasi non-verbal yang dilakukan oleh Cersei Lannister ini coba menunjukkan bahwa sebaiknya musuh mereka tidak macam-macam dengan dirinya karena ia akan melakukan hal apapun, bahkan yang tersadis, untuk memastikan bahwa seluruh musunhnya hancur.
Balasan komunikasi non verbal dari Daenerys Targaryen juga membuat gue takjub. Bagaimana dia yang tidak muncul telat sembari membawa dua naga yang lalu naga-naga tersebut berdiri di atas reruntuhan tembok, yang memberikan pesan bahwa naga-naga ini akan dengan mudah menghancurkan semua yang dimiliki oleh Cersei Lannister apabila ia tidak menyerah.
Game of Thrones ini simpel tapi rumit. Ini bukan serial yang berat tetapi butuh waktu untuk memahami hubungan antara tiap-tiap house yang ada di sini. Untungnya ada Daenerys Targaryen, ratu dengan mata indah dan senyuman lebar yang menawan yang membuat gue jatuh cinta sepanjang delapan season dari Game of Thrones. Tapi sayang, Dany, panggilan Daenerys, tidak bisa dimiliki seutuhnya, hanya bisa dikagumi, dan dikenang cerita indahnya. fin.

Comments
Post a Comment