1.
Di sebuah kota besar, pertemuan dengan orang asing menjadi sangat mungkin, bahkan setiap hari dan itu sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat perkotaan. Seorang walikota baru saja terpilih untuk memimpin kota tersebut. Ia serta pula membawa istri dan putrinya untuk tinggal di kota dengan berpenduduk kurang lebih 100.000 orang.
Walikota dan keluarganya tidak berasal dari kota tersebut. Ia datang dari kota di timur kerajaan. Kota yang terkenal dengan kehebatan para ksatrianya. Cerita kepahlawanan terbesar di seluruh kerajaan banyak yang berasal dari wilayah pesisir tersebut. Walaupun besar di tengah masyarakat yang sedikit keras, putri walikota tetap tumbuh menjadi seorang perempuan yang anggun dan cerdas.
Putri walikota yang pada saat itu masih merasa asing dengan lingkungan kota besar, pergi untuk berkeliling ke daerah pasar. Disana ia menemui satu toko sepatu kecil di sudut lorong. Tokonya tidak terlihat mewah, koleksi sepatunya pun biasa-biasa saja. Putri walikota yang masih ragu-ragu untuk masuk pun akhirnya hanya melihat-lihat penasaran.
Ada Si pembuat sepatu yang sedang duduk santai, perawakannya biasa saja, seperti pemuda di pasar pada umumnya. tak ada yang spesial darinya. Hanya saja, Si pembuat sepatu ini dikenal sebagai seseorang yang bekerja sangat keras.
Si pembuat sepatu dari kejauhan melihat calon pembeli pun dengan instingnya langsung berdiri dan mengundang calon pembeli yang ternyata adalah Putri walikota untuk masuk ke tokonya. Putri walikota pun dengan hati yang gembira masuk dan mulai memeriksa semua sepatu yang terpajang di etalase.
Keduanya pun mulai berbincang, mulai dari sepatu jenis apa yang paling disukai oleh Putri walikota, warna apa yang cocok untuk dipakainya, hingga bagaimana cara merawat sepatu agar tidak cepat rusak dan berjamur. Semua obrolan mereka berputar-putar ada urusan sepatu hingga tak sadar senja mulai menukik di ufuk barat.
Keesokan harinya, Putri walikota datang kembali toko tersebut. Ketertarikannya dengan sepatu membuat Si pembuat sepatu dan Putri walikota menjadi sering bertemu. Mereka mulai banyak membicarakan pengalaman masing-masing. Si pembuat sepatu merasa senang bahwa ada orang yang tertarik dengan sepatu yang ia jual.
Hari demi hari mereka terus bertemu sampai akhirnya terpikirkan oleh Si pembuat sepatu untuk memberikan sepatu terindah untuk teman barunya tersebut. Bermalam-malam ia sudah memikirkan ide tersebut dan akhirnya memutuskan untuk memberitahukan niatnya tersebut.
Pagi bertemu malam, malam bertemu fajar, si pembuat sepatu menjahit kulit terindah yang ia dapatkan dari seluruh penjuru kerajaan untuk membuat sepatu terbaik tersebut. Si pembuat sepatu tidak berencana untuk memberikan sepatu itu dalam waktu dekat. Si pembuat sepatu ingin menghadiahkan karya terbaiknya dalam bentuk yang paling sempurna.
Seperti hari-hari biasanya, Si pembuat sepatu dan Putri walikota bertemu. Mereka berbincang seperti biasa hingga akhirnya terlintas juga dari mulut Si pembuat sepatu tentang dirinya yang ingin memberikan sepatu terindah yang ada di kota untuk Putri walikota.
Putri walikota hanya tersenyum. Perbincangan mereka terus berlanjut hingga malam yang kunjung tiba dan Putri walikota pun kembali ke rumahnya.
2.
Kala itu akhir pekan di kota tersebut, hampir seluruh warga kota berkunjung ke pasar untuk berbelanja atau sekedar makan dan minum di bar. Sama seperti hari-hari sebelumnya, Si pembuat sepatu membuka toko sepatunya. Hanya saja hari itu sedikit berbeda, Putri walikota tidak datang ke toko miliknya.
Si pembuat sepatu menunggu sepanjang hari, tetapi tetap saja Putri walikota tidak tampak kehadirannya. Sampai pada sore hari akhirnya Si pembuat sepatu menutup tokonya dengan harapan Putri walikota akan datang esok hari.
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan Putri walikota tak juga datang ke toko sepatu. Si pembuat sepatu terus bertanya-tanya, mungkinkah terjadi sesuatu pada Putri walikota. Namun tetap saja tidak ada jawaban atas pertanyaannya tersebut.
Sepatu terindah itu sudah seperempat perjalanan untuk mencapai kata selesai. Si pembuat sepatu masih mencurahkan hatinya pada sepatu terindah di seluruh kota tersebut.
Karena masih adanya keinginan untuk memberikan sepatunya tersebut, Si pembuat sepatu pun memutuskan untuk mencari tahu keberadaan dari Putri walikota. Si pembuat sepatu mencari informasi ke seluruh penjuru kota. Sudut ke sudut tempat ia datangi untuk mendapatkan kabar keberadaan Putri walikota.
Si pembuat sepatu pun sampai pada satu panggung pertunjukan musik yang berada di dekat pusat kota. Ia bertemu dengan salah satu pegawai di kantor walikota yang kebetulan ia kenal dan ketahui dekat dengan Putri walikota. Ia menanyakan terkait keberadaan dari Putri walikota sekaligus menceritakan keinginannya untuk memberikan sepatu terindahnya tersebut.
Respons yang diberikan oleh Pegawai tersebut ternyata tidak seperti apa yang diharapkan oleh Si pembuat sepatu. Pegawai tersebut menyarankan Si pembuat sepatu untuk tidak melanjutkan niatnya tersebut, karena Putri walikota sudah bertunangan dengan Putra pemilik perusahaan kereta kuda yang ada di kota tersebut.
Pegawai tersebut bercerita bahwa Putri walikota dan Putra pemilik perusahaan kereta kuda sudah dikenalkan sejak lama dan baru-baru ini meresmikan pertunangan mereka.
Si pembuat sepatu yang kaget dengan kabar tersebut pun merasakan hentakan besar dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Si pembuat sepatu pun memutuskan kembali ke tokonya dengan perasaan yang dikerubungi awan mendung.
Kepastian bahwa Putri walikota tidak akan pernah kembali ke toko sepatu miliknya dan menerima sepatu terindah yang sedang ia siapkan membuat dirinya patah semangat. Si pembuat sepatu pun memutuskan untuk berhenti menyelesaikan sepatu terindah tersebut.
3.
Si pembuat sepatu terus melanjutkan hari-harinya seperti biasa. Membuka toko di pagi hari, membersihkan etalase, melayani pembeli, dan menutup toko di sore hari. Rutinitasnya yang membosankan akhirnya kembali menghampiri kehidupan Si pembuat sepatu.
Rutinitas dan kesibukan yang berulang tersebut pada nyatanya masih belum bisa menghilangkan keinginan Si pembuat sepatu untuk memberikan sepatu terindahnya tersebut. Namun ia sadar bahwa keinginan hanyalah sekedar keinginan.
Sampai pada akhirnya di pertengahan musim gugur. Si pembuat sepatu yang sedang menunggu pembeli seperti biasanya tiba-tiba saja tokonya dimasuki oleh dua orang pembeli, laki-laki dan perempuan, yang ternyata adalah Putri walikota dan Putra pemilik perusahaan kereta kuda.
Si pembuat sepatu hanya bisa menatap Putri walikota dalam diam. Si pembuat sepatu tidak banyak bicara, ia hanya melihat Putri walikota dan Putra pemilik perusahaan melihat-lihat koleksi sepatu di etalase. Begitupun dengan Putri walikota, ia hanya terlihat berbincang dengan tunangannya tersebut. Tak muncul kata-kata untuk teman lamanya, Si pembuat sepatu. Beberapa saat kemudian, Putri walikota dan Putra pemilik perusahaan kereta kuda pun keluar toko dan melanjutkan perjalanannya.
Melihat pemandangan tersebut, Si pembuat sepatu kebingungan. Setiap harinya ia terus dihantui pemandangan tersebut. Secara tak sadar, ternyata ia juga kembali mengerjakan sepatu terindah yang sempat berhenti dia kerjakan. Berminggu-minggu diliputi kegelisahan tersebut ternyata sepatu terindah itu sudah selesai, dan memang menjadi sepatu terindah yang pernah Si pembuat sepatu buat selama hidupnya.
Si pembuat sepatu terus memandangi sepatu terindah tersebut. Semakin besar pula rasa ingin dari Si pembuat sepatu untuk memberikan sepatu terindah tersebut. Sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk bersurat kepada Putri walikota. Dalam surat tersebut, dia hanya menanyakan kabar dari Putri walikota yang sudah lama dia tidak dengar.
Tak lama, surat balasan dari Putri walikota pun tiba. Putri walikota menuliskan bahwa dirinya saat ini sedang menjalani hari-harinya, sama seperti Si pembuat sepatu. Selama bersurat tersebut, Putri walikota dan Si pembuat sepatu hanya bercerita tentang hari-hari mereka dan terkadang bercerita tentang cerita yang dulu sering mereka bicarakan di toko sepatu.
Si pembuat sepatu tak pernah secara gamblang berbicara soal sepatu terindah. Tidak pernah tertuliskan dalam suratnya bahwa sepatu terindah itu sudah rampung dan adanya keinginan dari Si pembuat sepatu untuk memberikan sepatu terindah tersebut kepada Putri walikota.
Kesadaran dari Si pembuat sepatu bahwa dirinya tidak seharusnya membicarakan keinginannya untuk memberikan sepatu terbaik itu secara langsung. Putri walikota sudah bertunangan, tidak etis untuk memberikan hadiah, apalagi ini hadiah yang bisa dibilang sangat spesial, tanpa sepengetahuan dari tunangan Putri walikota.
Si pembuat sepatu hanya ingin kembali berinteraksi dengan temannya, Putri walikota. Dia khawatir apabila ia memberitahu bahwa sepatu terbaik itu sudah selesai dan membicarakan keinginannya untuk memberikan secara langsung sepatu terbaik tersebut, Putri walikota akan kembali menjauhinya dan menghilang selamanya. Keduanya pun terus bersurat sampai pada beberapa saat dan kemudian kembali pada hari-hari tanpa interaksi pertemanan yang memilukan.
Sepatu terindah tersebut akhirnya hanya duduk berdebu di salah satu rak yang berada di toko sepatu. Si pembuat sepatu belum berencana untuk menjual sepatu tersebut. Si pembuat sepatu masih menunggu sebuah keajaiban. Si pembuat sepatu masih berkeinginan untuk memberikan sepatu terindah, sepatu yang sudah dia jahit berbulan-bulan tersebut kepada pemilik yang seharusnya, Putri walikota.
Ia sudah mencurahkan seluruh hatinya selama hampir 4 musim untuk mempersiapkan sepatu terindah yang hanya bisa dibayangkan oleh setiap perempuan di kota tersebut dan ia berencana untuk menghadiahkan sepatu tersebut kepada putri dari walikota, perempuan paling cantik dan terpandang yang ada di kota tersebut.
Namun saat ini, si pembuat sepatu hanya akan melanjutkan hari-harinya, membuka toko, membersihkan etalase, atau mungkin mulai mewujudkan mimpinya untuk membuat toko sepatu yang lebih besar dan membuka cabang baru.
Sembari menunggu bila suatu hari Putri walikota singgah sebentar, kembali melihat-lihat di toko sederhanannya seperti hari pertama mereka berkenalan dan hingga terakhir kalinya Si pembuat sepatu mempunyai kesempatan langsung untuk memberikan sepatu terindah. fin.

Comments
Post a Comment