High culture biasanya memiliki karakteristik didominasi oleh kelompok elit dan arsitokrat, dan bentuk ekspresi budaya pada umumnya seperti opera, patung atau pahat klasik, serta musik simfoni. Sementara itu, di sisi lain lahir anti tesis dari high culture yang kemudian disebut sebagai low culture atau lebih dikenal sebagai budaya populer. Budaya populer bila diperhatikan sebenarnya bukanlah produk budaya yang murahan dan asal buat, tetapi karena adanya pandangan elitis terkait budaya membuat budaya populer akhirnya dikategorikan sebagai low culture (Martin & Nakayama, 2013).
Budaya populer sendiri didefinisikan sebagai produk budaya yang banyak orang bagikan dan ketahui, termasuk televisi, majalah, musik, video, dan produk budaya kontemporer lainnya. Karena ada di mana-mana dan sudah menjadi forum sosial, budaya populer dewasa ini menjadi semakin sulit untuk dihindari, apalagi dengan berkembangnya internet. Konsumsi terhadap budaya populer pun akhirnya menjadi suatu hal yang lumrah, bagaimana tidak hampir seluruh kanal informasi menayangkan produk budaya populer. Bukan hanya karena dianggap”kekinian”, tetapi ada motif ekonomi yang melatarbelakanginya.
Theodor Adorno, filsuf Jerman, menyebutkan bahwa “di bawah kapitalisme semua produksi hanya untuk pasar”, ia juga menambahkan bahwa benda diproduksi tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, tetapi hanya untuk keuntungan, hanya untuk mengais lebih banyak modal (Khandizaji & Caputi, 2021). Selain itu, kebutuhan akan adanya identitas kultural juga yang akhirnya dieksploitas oleh pelaku industri budaya populer untuk penetrasi ke masyarakat.
Namun begitu, tidak semua orang secara sukarela menerima masuknya budaya populer ke kehidupan mereka. Mulai banyak orang yang secara terang-terangan menolak bentuk budaya populer tertentu karena produk budaya yang masyarakat anggap tidak cocok dengan nilai yang masyarakat anut. Contoh kasus yang coba diangkat kali ini adalah bagaimana “Woke Culture” mulai menanamkan akarnya ke produk budaya populer dan berakhir ditolak oleh sebagian masyarakat.
Woke culture merupakan budaya yang menyadari bahwa terjadi opresi dan ketidaksetaraan sosial terhadap kelompok minoritas tertentu dan berusaha untuk melakukan perlawanan sosial (Madrid Gil, 2023). Woke culture awalnya dianggap baik karena mencoba menjadi medium bagi kelompok marjinal untuk bisa dianggap setara di masyarakat. Namun, woke culture lama kelamaan dianggap mulai berlebihan karena berusaha menyusupkan agenda mereka di setiap sektor publik, termasuk sektor budaya. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan oleh rumah produksi Disney yang menurut banyak orang menyusupkan agenda woke culture ke dalam setiap film-filmnya. Pertama ada pada film “Lightyear” dan “Thor : Love and Thunder” yang memasukkan unsur LGBT ke dalam filmnya. Lalu, kontroversi film live action dari “Little Mermaid” yang menggambarkan Ariel sebagai seorang kulit hitam.
Terakhir, bagaimana Disney mengubah pakaian karakter Minnie Mouse yang awalnya menggunakan gaun polkadot berwarna merah muda, diubah menjadi menggunakan setelan dengan warna biru gelap. Masalah ini banyak dikritik karena beberapa agenda dianggap terlalu berlebihan, tidak sesuai nilai, dan bahkan bagi para investor Disney, agenda yang politik yang dilakukan oleh Disney bisa membahayakan reputasi brand mereka (Zilber, 2023). Apa yang terjadi dengan Disney ini adalah bentuk nyata bahwa media bisa digunakan sebagai alat komunikasi antar budaya. Media akan mengkonstruksi ide sedemekianrupa dengan memasukkan nilai-nilai yang mereka percayai dengan tujuan untuk mengubah persepsi khalayak (Baldwin et al., 2014).
Dengan budaya populer sebagai budaya yang paling banyak dikonsumsi, media pun memanfaatakan produk budaya populer sebagai instrumennya. Korporasi dan media, dalam kasus ini Disney, mengambil peran sebagai pihak yang memanfaatkan budaya populer untuk merepresentasikan kelompok tertentu, yakni kelompok marjinal. Namun begitu, ada konsekuensi yang harus diambil oleh Disney, karena dunia bukanlah tempat di mana hanya satu perspektif yang diterima, ada banyak perspektif lain dengan ide dan nilai yang berbeda-beda. Disney harus menghadapi serangan dari masyarakat anti woke culture dan bahkan dari fans mereka sendiri yang menganggap bahwa fantasi mereka atas karakter kartun Disney selama ini telah dirusak oleh agenda woke culture yang dibawa oleh perusahaan berlambang kastil istana tersebut.
Daftar Isi
Baldwin, J. R., Coleman, R. R. M., González, A., & Shenoy-Packer, S. (2014). Intercultural Communication for Everyday Life. In Wiley-Blackwell. Wiley-Blackwell. https://doi.org/10.4324/9781315159010-1
Khandizaji, A., & Caputi, M. (2021). The Culture Industry: Adorno and the Frankfurt School BT - David Riesman and Critical Theory: Autonomy Instead of Emancipation (A. Khandizaji & M. Caputi (eds.); pp. 115–133). Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-030-78869-8_4
Madrid Gil, S. (2023). Woke culture and the history of America: From colonisation to depersonalisation. Church, Communication and Culture, 8(1), 18–42. https://doi.org/10.1080/23753234.2023.2174890
Martin, J. N., & Nakayama, T. K. (2013). Interculutral Communication In Context (Seventh Ed). McGraw Hill Education.
Zilber, A. (2023). Struggling Disney hints its woke politics ‘present risks to our reputation and brands.’ New York Post. https://nypost.com/2023/11/28/business/disney-hints-woke-politics-present-risks-to-reputation-and-brands/

Comments
Post a Comment