Keresahan yang terjadi beberapa bulan kebelakang benar-benar membuat pikiran dan psikologis Tama terganggu. Ia berlarian ke kiri, ke kanan, sampai mencoba pengalaman baru demi mengembalikan kewarasannya. Tampaknya perlu waktu yang lama bagi Tama untuk mampu melewati hari demi hari dengan pikirannya sendiri yang menyiksa.
Ia selalu memikirkan satu gadis yang tampak riang senyumnya, indah matanya tetapi memiliki tatapan nanar seolah banyak ketakutan dan kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya. Kelembutan suaranya dengan intonasi nada bicara yang sedikit manja memiliki daya tarik tersendiri sehingga siapa pun yang berbicara kepadanya akan luluh tak berdaya. Gadis tersebut ia lah Raisa.
Sudah lama Tama mengagumi Raisa. Tama sebetulnya sedikit rendah diri membandingkan dirinya dengan Raisa yang ia anggap sebagai bintang paling terang di ujung Andromeda. Sulit digapai, mungkin itu bisa sedikit menjelaskan. Walaupun begitu, kepercayaan diri Tama akhirnya membawa dirinya menjadi lebih dekat dengan Raisa. Melihat senyuman dan mata indahnya dari dekat pun menjadi kenyataan.
Namun, itulah batasan yang akhirnya Tama hanya bisa raih. Tak lebih dari itu, Tama berpikir memang sebenanrya mereka ada di liga yang berbeda, tak pernah setara. Raisa terlalu indah untuk Tama yang hanya sekedar pria pemalu dengan sedikit daya tarik. Tama pun berusaha mengikhlaskan kenyataan tersebut sembari terus berusaha meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja.
Setelah hampir 5 bulan terpisah dengan Raisa, Tama yang sedang melewati hari-hari seperti biasanya tanpa disangka bertemu kembali dengan Raisa, gadis terindah yang pernah ia kenal, sedang duduk sembari berbincang dengan beberapa teman. Tama yang hanya melihat dari kejauhan pun bertemu mata dengan Raisa. Raisa pun memanggil Tama, memintanya bergabung dengan teman-teman lainnya. Waktu berlalu dengan perbincangan yang tiada henti hingga sampailah pada akhir pertemuan teman-teman tersebut.
Tama yang pada saat itu hendak pergi sempat berbincang sebentar dengan Raisa. Tama yang sudah sejak lama memendam kerinduannya terhadap Raisa pun mengutarakan isi hatinya kepada gadis yang memiliki tatapan nanar tersebut. Tama hanya berpikir mungkin ini bisa mengobati luka di hatinya yang sudah lama ia coba perbaiki. Tak ekspketasi darinya, ia justru khawatir Raisa akan merasa terganggu dengan keputusan gilanya tersebut.
Siapa sangka, dunia memang aneh, Raisa ternyata memiliki perasaan yang sama. Sudah sejak lama Raisa ingin mengungkapkan perasaannya kepada Tama, tetapi ada hal yang membuatnya urung mengatakannya. Tama yang sedikit tertegun dengan fakta tersebut tak tahu harus bersikap seperti apa. Apa ia harus berteriak kegirangan, melompat dan backflip 100 kali atau justru kembali bertanya apakah yang Raisa katakan adalah benar. Tama dengan ketulusan hatinya kepada Raisa akhirnya mencoba untuk meyakini dirinya bahwa apa yang Raisa katakan adalah kebenaran yang sebenar-benarnya.
Keduanya pun memutuskan untuk pulang bersama. Tama dan Raisa bersama dalam satu taksi. Ini mungkin hal yang sulit diyakini oleh Tama, tetapi ini sudah terjadi. Keduanya duduk bersebalahan dengan sedikit canggung. Tak lama, Raisa mulai memiringkan badannya untuk bersandar di bahu Tama. Raisa mulai memeluk Tama dengan hati-hati. Tama yang sedikit gugup pun mulai memegang tangan Raisa sembari perlahan merangkul Raisa. Kehangatan yang di antara mereka membuat pada akhirnya membawa Raisa mengecup pipi dan bibir Tama. Tama kaget. Bukan nafsu yang ia rasakan, melainkan rasa cinta dan rindu mendalam yang tidak pernah terungkap akhirnya tersampaikan lewat kecupan tersebut.
Sayangnya, kecupan tersebut membangunkan Tama dari tidurnya. Tama menyadari bahwa itu semua adalah mimpi semata. Tama pun menghela napasnya dengan panjang. Ia berharap mimpi indah tersebut adalah kenyataan, tetapi apa boleh buat, membayangkan dirinya bersama, bahagia bersama Raisa memang hanya angan-angan saja.
Keesokan harinya, Tama justru ditampar fakta ketika kembali ke perkumpulan teman-teman. Ia melihat Raisa bersama kekasih barunya. Pada kesempatan tersebut, bahkan Raisa hendak memperkenalkan pria tersebut pada teman-temannya. Tama yang tak sanggup melihat kenyataan tersebut pun memilih keluar ruangan sembari kembali mencoba memperbaiki dalam dirinya yang berantakan walaupun di luar ia terlihat kuat dan baik-baik saja.
Tama tidak akan pernah melupakan mimpi indah tersebut. Semalam bersama Raisa akan selalu menjadi memori terindahnya. Fin.

Comments
Post a Comment