Batas



Belakangan ini banyak bertanya pada diri sendiri dan yang di atas tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi. Apa ini yang dinamakan quarter life crisis yang biasa digembar-gemborkan oleh banyak orang.

Setiap orang bertanya, "How's life lately?", jawaban yang keluar secara spontan adalah, "Everything's good". Sebenarnya, jikalau ditarik ke belakang, jawabannya tidak se-simple itu.

Sebagai seseorang yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja, agak berat juga menanggungnya. Ya bagaimana lagi, lingkungan bisa memaksa seseorang untuk terus menjadi mandiri dan berusaha keras untuk membahagiakan orang-orang yang menaruh harapan besar kepadanya.

Satu per satu rintangan coba dilalui, tidak ada yang mudah, mungkin "pace" dan "process"-nya yang berbeda-beda. Sejauh ini semua baik-baik saja dan bisa dilalui dengan baik walaupun ada saja yang membuat mulut mengeluarkan sumpah serapah, tetapi itu semua bukan masalah besar kecuali masalah hati.

Pertahanan diri tidak pernah seruntuh ini bila bicara masalah hati. Ada rekan pernah berkata, mengutip dari Buya Hamka,"Rasa cinta dan sayang terbesar adalah yang diawali dari rasa kasihan". Terbukti kata-kata tersebut ada benarnya.

Tak pernah bermaksud untuk jatuh hati, tapi proses dan interaksi akhirnya memaksa pertahanan diri yang sudah dibangun sekuat tembok besar Cina akhirnya runtuh juga. Memang kurang ajar rasa kasihan itu.

Saat sudah jatuh ke dalam lembah yang semakin dalam, semakin sulit pula untuk mendaki kembali keluar. Sudah berkali-kali hampir kembali melihat matahari, tetapi tetap jatuh kembali. 

Pernah mencoba untuk membangun batas, bukan untuk memisahkan, karena sebenarnya masih belum bisa untuk kehilangan. Berpikir ini cara terbaik untuk bisa terus melanjutkan hidup, tetapi batas tersebut terus menerus diterobos dan insan bodoh yang lemah ini tak bisa menahannya.

Si paling bijak berkata coba alihkan perasaan itu ke aktivitas yang bisa membuat lupa. Iya, itu akan berhasil, bila ada batas-batas yang tidak terus menerus dilewati karena rasa sayang itu sudah tidak main-main.

Campur aduk, bingung. Tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Hanya diri sendiri yang bisa disalahkan karena sudah terlanjur basah seperti ini. Rasanya sia-sia usaha berminggu-minggu, berbulan-bulan bisa diluluhlantahkan hanya dalam satu malam. Seketika lagu "You and Me" dari Lifehouse diputar on repeat di dalam kepala.

Pada akhirnya tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah lelah berharap karena pola yang sama terus menerus berulang atau mungkin sejak awal memang tidak ada harapan. Hanya bisa berdoa agar yang di sana bahagia dan tidak sakit. Sementara di sini kembali coba menata tembok pembatas yang sudah hancur lebur.

Comments