Jutaan orang bekerja mati-matian demi mengejar karirnya, ada juga yang hanya karena butuh kepastian bahwa dirinya paling tidak bisa hidup sampai satu bulan kedepan.
Mungkin mereka terlihat bahagia dengan semua yang mereka punya, tapi apa iya? Ada banyak hal yang sebetulnya mereka sembunyikan dari khalayak luas yang tidak tahu apa-apa.
Sebenarnya mereka ingin berkeluh kesah. Tak ada waktu, alasannya selalu itu. Padahal semua sudah tau, insan yang tepat tidak hadir untuk membersamai ceritamu.
Bagaimana bisa? Jauh, kehilangan teman bersenda gurau dan ditinggal orang yang pernah percaya dan mengandalkan dirimu ternyata semenyedihkan itu?
Delapan jam sehari mendedikasikan diri untuk pekerjaan ternyata tidak membantu kepala itu untuk mengalihkan pikirannya dari kenangan-kenangan bahagia masa lalu.
Rasa sepi itu seperti sebilah kapak di dalam botol vodka, tak seharusnya kapak itu berada di sana. Ia lebih baik berkumpul bersama sekop dan gergaji, utensil yang punya bahasa dan problema yang serupa.
Tak kala waktu menunjukkan waktu pulang, kegelapan mengantar diri untuk istirahat. Sialnya, bagaikan roda yang berputar, perasaan itu akan terus kembali menyelimuti hati setiap orang yang merasa sendu.
Bisa bertahan hidup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki rasanya cukup jadi batu pijakan untuk terus mengejar kebahagiaan.
Namun pertanyaan, sampai kapan begitu terus?

Comments
Post a Comment