KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT TERHADAP TIONGKOK
PENDAHULUAN
Hubungan antara
Amerika Serikat dan Tiongkok sudah terjalin sejak waktu yang sangat lama. Hal
itu dimulai ketika Amerika Serikat mulai mengakui pemerintahan Chinesse
Republic tahun 1911 setelah terjadinya revolusi Xinhai yang pada waktu itu
Tiongkok masih dikuasai oleh banyak pemerintahan. Tiongkok kemudian disatukan
oleh Partai Kuomintang tahun 1928.
Selanjutnya
setelah terjadinya perang saudara di daratan Tiongkok antara Kuomintang
pimpinan Chiang kai-shiek yang beraliran liberal dan Partai komunis pimpinan
Mao Zedong yang pada akhirnya dimenangkan oleh Partai Komunis yang berhasil
menduduki Tiongkok daratan dan memaksa orang-orang Kuomintang untuk berpindah
ke Taiwan. Kekhawatiran dari Secretary George Marshall yang sebelumnya mencoba
untuk memediasi Tiongkok pun terjadi. Akhirnya, Mao Zedong mendeklarasikan
berdirinya Republik Rakyat Tiongkok tahun 1949.
PEMBAHASAN
(Awal berdirinya Republik Rakyat Tiongkok)
Diawal pembentukan
dari Republik Rakyat Tiongkok, Pemerintahan Amerika Serikat yang pada saat itu
dipimpin oleh Presiden Truman, tidak mengakui berdirinya negara baru tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat masih mengakui Republik Tiongkok pimpinan Chiang
Kai-Shiek yang berpindah ke Taiwan. Namun, hubungan pemerintah Republik
Tiongkok dan Pemerintah Amerika Serikat tidak berjalan mulus. Hal itu terjadi
ketika Pemerintah Republik Tiongkok menuduh Amerika Serikat melalu CIA membantu
upaya kudeta yang dilakukan oleh Sun Jien yang adalah seorang politisi yang
pernah belajar di Amerika Serikat. Chiang Kai-Shiek pun memasukan Sun Jien
kadalam penjara atas tuduhan tersebut.
Seiring dinamika
politik yang terjadi di Republik Tiongkok, negara baru yang kuat yaitu Republik
Rakyat Tiongkok mulai memobilisasi pasukannya ke Selatan untuk menguasi seluruh
Tiongkok daratan. Ini membuat Kedutaan Amerika Serikat harus ikut berpindah ke
Taiwan. Pada tahun 1950, Republik Rakyat Tiongkok menasionalisasi asset Amerika
Serikat di Tiongkok setelah Amerika membekukan asset Tiongkok karena Tiongkok
ikut campur dalam perang Korea.
(Perang Korea dan dampak hubungan AS dan
Tiongkok)
Hubungan antara
Amerika Serikat dengan Tiongkok sempat mereda diawal tahun 1950an ketika
Presiden Truman berpidato bahwa Amerika Serikat tidak akan ikut campur urusan
Tiongkok dalam konfliknya dengan Taiwan. Namun, hal itu berubah setalah
Tiongkok ikut campur di dalam perang Korea. Ketika pasukan Republik Korea dan
PBB berhasil mendorong pasukan Korea Utara sampai perbatasan Tiongkok. Menteri
Luar negeri Tiongkok, Zhou Enlai mengingatkan UN bahwa jika keamanan nasional
Tiongkok terancam, Tiongkok akan intervensi perang korea. Sampai akhirnya
Tiongkok intervensi Perang dan mengakibatkan terbelahnya Korea tahun 1953. Setelah
perang korea, hubungan Amerika Serikat menjadi lebih buruk, terhitung dari
tahun 1949-1971 hubungan kedua negara tersebut sangatlah buruk. Puncaknya pada
masa kepemipinan John F Kennedy dan Lydon Johnson. Kennedy menggangap Tiongkok
lebih berbahaya dari Uni Soviet karena ambisinya. Lyndon Johnson yang sempat
akan menyerang Tiongkok kemudian batal dan akan membuka hubungan dengan
Tiongkok yang akhirnya batal kembali karena keterlibatan Tiongkok di Perang
Vietnam.
(Normalisasi Hubungan AS dan Tiongkok)
Tahun 1960an
sampai awal 1970an adalah awal dari normalisasi hubungan antara Amerika Serikat
dan Tiongkok. Presiden Nixon menginginkan adanya pembicaraan antara Amerika
Serikat dan Tiongkok. Titik balik adalah melalui ping pong diplomacy tahun 1971 ketika atlet Amerika Serikat
mengunjungi Tiongkok pertama kalinya sejak 1949 dan membuka jalan normalisasi.
Akhirnya pada tahun 1972, Presiden Nixon mengunjungi Tiongkok dan menghasilkan
Shanghai Communique yang berisi perjanjian normlaisasi penuh hubungan AS dan
Tiongkok, ditandai dengan berdirinya Liasion Office Amerika Serikat di
Tiongkok. Sampai pada tahun 1979 Amerika Serikat mengakui Tiongkok sebagai
negara dan diikuti kedua negara mendirikan kantor kedutaan masing-masing di
Beijing dan Washington DC.
(Masa Pemerintahan George H.W Bush
1989-1993)
Pada masa ini,
hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok mengalami penurunan karena tindakan
represif Tiongkok terhadap pendemo. Puncaknya pada tragedy Tiananmen yang
membuat Amerika Serikat menghentikan pertukaran pejabat tinggi dan ekspor
senjata ke tiongkok dan memberikan sanksi ekonomi terhadap Tiongkok. Kongres
sangat berperan besar dalam pemberian sanksi ini, sedangkan pihak gedung putih
menginginkan adanya pembicaraan lebih lanjut dengan Tiongkok sembari mengkritik
Tiongkok. Hubungan militer Tiongkok dan Amerika Serikat pun ikut terputus dan
belum diperbaiki sampai sekarang.
(Masa Pemerintahan Bill Clinton 1993-2001)
Pada masa ini,
hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok bisa dibilang naik turun. Bill
Clinton yang pada saat kampanye mengkritik Bush karena mengutamakan perdagangan
dengan Tiongkok justru berbalik saat sudah terpilih menjadi Presiden. Presiden
Clinton mengupayakan peningkatan hubungan dengan Tiongkok melalui beberapa klausul
yang kemudian ditolak Tiongkok. Amerika Serikat dan Tiongkok setelahnya
beberapa kali menghadapi konflik sampai pada akhirnya Pemimpin Tiongkok, Jiang
Zemin mengunjungi Amerika Serikat tahun 1997 dan dibalas dengan Presiden
Clinton mengunjungi Tiongkok setahun kemudian. Langkah ini dikritik karena
Presiden Clinton seperti mengabaikan pelanggaran HAM yang dilakukan Tiongkok.
Pengeboman kedubes Tiongkok di Belgrade tahun 1999 oleh Militer Amerika Serikat
juga menjadi penurunan hubungan kembali antar dua negara, yang kemudian
diselesaikan dengan Amerika Serikat meminta maaf dan memberi kompensasi ke
korban.
(Masa Pemerintahan George W. Bush
2001-2009)
Setelah serangan
9/11 di New York, hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok cukup menguat karena
ada warga negara Tiongkok yang menjadi korban. Perang terhadap terorisme
Amerika Serikat di Timur Tengah juga didukung oleh Tiongkok karena Tiongkok
memiliki masalah dengan etnis Uyghur di Xinjiang. Amerika Serikat dan Tiongkok
juga memiliki hubungan kuat terhadap isu regional, melakukan tekanan di
semenanjung Korea terhadap Korea Utara dan pengembangan senjata nuklirnya.
(Masa Pemerintahan Barack Obama 2009-2017)
Pemerintahan Obama
berfokus pada pengembangan investasi di Tiongkok agar menjadi investasi yang
SDG’s yaitu memperhatikan climate change.
Selain itu masalah pengembangan senjata nuklir juga menjadi sorotan Presiden
Obama dalam hubungannya dengan Tiongkok, Amerika Serikat dan Tiongkok pun
menerapkan sanksi yang lebih keras ke Korea Utara terkait pelanggaran hak asasi
manusia dan pengembangan senjata nuklirnya.
(Masa Pemerintahan Donald Trump 2017- )
Dari awal
pemerintahan Trump, hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok sudah mulai memanas.
Kapal perang Amerka Serikat mendekati perairan Tiongkok dan membuat Tiongkok
protes akan hal itu. Pada April, 2018 Tiongkok mengenakan tariff untuk 128
barang dari Amerika Serikat sebagai balasan atas pungutan yang dikenakan oleh
Amerika Serika terkait impor baja yang berefek pada ekspor tahunan Amerika
Serikat sebanyak 3 Juta dollar Amerika. Presiden Trump pun menaikan pajak
sampai 25% untuk barang Tiongkok untuk menutupi deficit perdagangan tersebut. Trump
juga mencabut status perdagangan khusus Hong Kong atas pemberlakuakn National
Law di Hong Kong dan memberi sanksi atas pembangunan kamp konsentrasi di Uyghur
oleh Tiongkok. Trump juga menuduh Tiongkok sebagai penyebar virus Corona.
KESIMPULAN
Hubungan antara
Amerika Serikat dan Tiongkok jarang sekali harmonis sejak berdirinya Republik
Rakyat Tiongkok. Selain adanya perbedaan ideology dari dua negara tersebut,
status Tiongkok sebagai negara yang memiliki ambisi ekonomi dan militer yang
sangat besar membuat Amerika Serikat harus menaruh perhatian besar terhadap
Tiongkok ,khawatir pengaruh Tiongkok yang bisa menandingi bahkan mengalahkan
pengaruh Amerika Serikat dan menjadi hegemoni baru di dunia.
REFERENSI
David Skidmore and
William Gates. "After Tiananmen: The struggle over US policy toward China
in the Bush administration." Presidential Studies Quarterly (1997):
514–39
ARTHUR WABISER,
Yosias Marion. THE SINO – US RELATIONSHIP : STUDI KASUS KEBIJAKAN AMERIKA
SERIKAT TERHADAP ONE CHINA POLICY. JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL,
[S.l.], v. 1, n. 03, oct. 2015
Harry S. Truman
statement on Formosa https://china.usc.edu/harry-s-truman-%E2%80%9Cstatement-formosa%E2%80%9D-january-5-1950
Charles Ford
Redick, "The Jurisprudence of the Foreign Claims Settlement Commission:
Chinese Claims." The American Journal of International Law, vol. 67, no. 4
(Oct. 1973)
Test
ReplyDelete