Resume Non Western Theory "Why there are non-western theory of international relations?" The Case of Japan

 

Resume Non – Western Theory
Why there are non – western theory of international relations?
The case of Japan

            Teori – teori hubungan internasional yang dikaji oleh para sarjana – sarjana iluwan hubungan Internasional saat ini semuanya lahir dari dunia barat. Tidak ada teori – teori tentang hubungan antar negara yang berasal dari non – western yang dikaji lebih jauh. Inilah yang kemudian membuat Archarya dan Buzan mulai melirik teori – teori dari cina, jepang, dan belahan dunia lain. Mereka mengatakan bahwa teori western too narrow and too dominance, padahal juga ada teori dari belahan dunia lain yang menarik dan relevan untuk dikaji. Misalnya dari Jepang. Maka dari itu akan dirangkum tentang bagaimana teori hubungan internasional menurut perspektif dari para scholar – scholar Jepang.

            Seperti banyak teori – teori di wilayah lain, teori di Jepang juga dipengaruhi oleh teori mainstream dari ilmu sosial.  Yang pertama sebelum tahun 1945, berkembang pendekatan militer. Prioritas utama diberikan untuk memasok banyak latar belakang sejarah-kelembagaan dan menggambarkan peristiwa dan kepribadian di konteks dan konsekuensinya secara mendetail. Pendekatan ini dinilai dalam menganalisis tren perubahan internasional yang mungkin memengaruhi hubungan luar negeri Jepang. Perspektif ini berkembang lagi bahkan setelah tahun 1945 dengan government related thinks tank yang humanistic. Tradisi kedua adalah Marxisme, yang sangat kuat dari tahun 1920-an hingga ke tahun 1960-an. Tradisi ini dikaitkan dengan konsepsi ilmu sosial sebagai Oposisiwissenschaft, atau ilmu oposisi. Pada 1920-an, ketika istilah shakai kagaku (sosial sains) pertama kali digunakan di Jepang, yang sering dilambangkan dengan Marxisme, diterjemahkan sebagai sosial sains hampir identik dengan Marxisme. Ilmu sosial Jepang telah secara harfiah Marxis pada 1930-an. Pengaruh Marxis semakin meluas tanpa tindakan keamanan internal tahun 1925, setelah 1945, dan dari pos langsung periode perang sampai 1960-an ilmu sosial - ekonomi, ilmu politik dan sosiologi - sering dipimpin oleh kaum Marxis atau cendekiawan yang cenderung Marxis. Tradisi ketiga adalah tradisi historis. Perspektif ini sangat kuat, dan sebagai hasilnya sebagian besar sarjana dalam hubungan internasional memiliki pendekatan dengan penelitian sejarah karena itu cabang humaniora daripada ilmu sosial. Perspektif keempat dari hubungan internasional di Jepang pasca perang dipengaruhi ileh ilmu – ilmu yang berkembang dalam ilmu politik di Amerika Serikat. Keuletan kuat dari empat tradisi yang tertanam dalam hubungan internasional Jepang kadang - kadang menyulitkan Sebagian akademisi bumi putra Jepang untuk membahas hal-hal yang lebih dipengaruhi AS (atau bisa dibilang neokolonial) Tetangga Asia Timur seperti Korea, Taiwan dan Cina. Tetapi itu semua mulai bisa diatasi dengan bayak akademisi Jepang mulai menerbitkan karaya – karyanya dalam Bahasa Inggris dan dterbitkan di Jurnal – jurnal terkenal.

            Dalam Studi Intnasional, yang menarik bagi para sarjana adalah hubungan diplomatic Jepang dengan luar negeri. Studi Perang Pasifik yang penting ini menanyakan pertanyaan besar tentang apa yang salah dan mencurahkan bab demi bab untuk melacak dan memeriksa rincian menyerap dinamika diplomatik dan politik hubungan eksternal Jepang. Framing question kedua pada dasarnya adalah pertanyaan kebijakan, tetapi mengingat bagaimana masyarakat Jepang sudah terorganisir, ada sedikit kemungkinan bahwa anggota akademisi dapat mengembangkan karir sebagai ahli dalam kebijakan atau menjadi fasih dalam urusan kebijakan dan terhubung dengan baik dalam sirkuit pembuatan kebijakan. Mobilitas tenaga kerja antarsektor sangat terbatas sehingga bahkan para cendekiawan yang aktif dalam debat jurnalistik mengenai kebijakan tidak dapat bercita-cita secara realistis. Untuk keterlibatan aktif dalam pembuatan kebijakan sebagai bagian dari karir mereka.

            Ada tiga sarjana hubungan internasional yang mengkonsep teori yang bisa digunakan untuk memodelkan bagaiamana teori – teori hubungan internasional eksis di Jepang.
Pertama, Nishida Innate Constructivist. Nishida menekankan pentingnya identitas. Bagaimana Jepang bisa bertahan sebagai dirinya sendiri dari pengaruh dunia dan inferioritas terhadap bangsa lain yang dibuat oleh bangsa barat. Filosofi pemikiran dari Nishida agar budaya jepang tidak dikenal sebagai parokial tetapi sebagai universal. Nishida ingin budaya Jepang bisa diekstraksi agar dikenal dunia. Kedua, Tabata as an international law theorist presupposing the natural freedom of individuals. Kedaulatan negara, hukum internasional, dan demokrasi adalah kata kunci yang digunakan Tabata tentang bagaimana seharusnya hubugan internasional bekerja. Tabata berkiblat pada teori kedaulatan popular karya Emmerich del Vattel dan Samuel von Puddendorf yang berbeda denga teori Goatian yang popular dan relate dengan keadaan saat ini. Puddendorf berpendapat bahwa hanya dengan membayangkan kesetaraan antar negara maka hal normative seperti tidak menyakiti sesame akan berjalan. Ketiga, Hirano as an economist placing regional integration higher than state sovereignty. Integrasi ekonomi regional telah menjadi salah satu konsep kunci dalam studi hubungan internasional. Tahun 1924, Hirano berpendapat bahwa modernitas dan prinsip sosial kontraktualnya (kapitalisme) dapat digantikan dengan membangun prinsip sosial komunitarian (sosialisme).

            Ada beberapa alasan mengapa “tidak ada teori HI di Jepang?’, inilah kemungkinan yang dihimpun, 1.Penelitian hubungan internasional Jepang telah berkembang seperti mosaik dengan berbagai tradisi metodologis yang tidak saling melengkapi satu sama lain. 2. Penelitian hubungan internasional Jepang adalah variasi bumi putra (asli), karena Jepang tidak dijajah oleh Barat. 3.Hubungan Internasional Jepang terbagi menjadi tiga fase, fase pertama adalah adaanya pemerintahan yang dilegitimasi oleh pemerintahan cina dinasti Qing. Fase Kedua, mulainya masa orang Jepang mandiri. Fase ketiga adalah lahirnya pemerintahan Jepang sendiri yang Jepang sentris dengan pemerintahan dibawah tokugawa bafuku (pemerintahan militer).

Comments