Mengenal Teori Feminisme dalam Hubungan Internasional

 Kita telah mengetahui bahwasanya feminisme merupakan teori yang menggambarkan perjuangan dan pemikiran wanita.. Teori yang berkembang ini muncul sebagai kritik-kiritik terhadap traditional theory seperti realisme. Feminis berpendapat bahwa traditional theory itu terlalu bersifat state-centric dan hanya membahas mengenai man, power, and war. Feminisme itu sendiri merupakan sebuah Gerakan wanita yang menuntut adanya emansipasi atau kesamaan derajat di lingkungan sosial antara kaum wanita dan kaum pria. Feminisme memiliki pemikiran utama yaitu wanita dan pria harus memiliki kesetaraan didalam hak nya masing – masing. Dalam literatur ini diberi penjelasan bahwa Feminisme dalam studi hubungan internasional memandang bagaimana politik internasional dipengaruhi dan mempengaruhi gender disebutkan laki – laki dan perempuan. Selain itu pula didalam literatur ini dijelaskan apa kaitannya Feminisme ini dalam aspek hubungan internasional.

Teori feminisme adalah bagian dari teori post-positivisme yang didebatkan dalam third debate oleh positivis dan post-positivist. Ada Hal lain yang ikut mendorong adanya gerakan feminisme adalah terdapatnya diskriminasi identitas atau gender dalam politik internasional. Dalam hal ini, kaum perempuan tidak bisa mendapatkan hak untuk ikut serta dalam politik internasional karena dianggap gender yang inferior, bahkan dalam ruang lingkup politik domestik pun kaum wanita tidak diberi kebebasan untuk berkontribusi. Maka  berangkat dari masalah tersebutlah yang membuat wanita-wanita terutama kaum feminis untuk memperjuangkan hak-hak wanita didalam politik internasional dan menyetarakan peran laki-laki dan wanita didalam masyarakat internasional.

Yang akan difokuskan pada analisa dari Feminisme adalah pada aktor-aktor transnasional atau non-negara dan mereka bertransformasi dalam politik global. Metode analisa yang digunakan adalah Standpoint, yang berarti subjek yang diteliti digunakan sebagi sudut pandangnya. Oleh karena itu posisi feminisme sebelumnya dalam studi Hubungan Internasional  kurang diperhatikan, baru setelah kejadian 9/11 teori ini mulai diperhatikan dalam studi Hubungan internasional.

Dalam tulisan dari  Jaqui true tertulis bahwa Feminisme terbagi atas dua generasi.Tetapi sebenanrya jauh sebelum itu sudah terbentuk Gerakan ini.Generasi pertama terbentuktahun 1920an di Amerika Serikat untuk memperjuangkan hak pilih wanita di Amerika Serikat.Generasi kedua muncul 1960an untuk memperjuangkan social liberation untuk perempuan. Generasi yang ketiga yaitu pada tahun 1980an, dimana generasi inilah yang terlibat didalam third debate antara kaum positivist dan post-positivist. Generasi ini memperdebatkan ontologi dan epistimologi yang digunakan oleh teori positivis. Kaum feminisime didalam generasi ini berusaha untuk mendekonstruksi dan menghilagkan teori realisme yang selama ini menjadi teori yang paling dominan dalam studi hubungan internasional pasca perang dunia kedua.

Berbeda dengan generasi pendahulunya, Feminisme pada generasi selanjutnya ini muncul pada tahun 1990an dengan berusaha untuk menjadikan gender sebagai pusat analisa dari studi Hubungan internasional. Tickner, Sylvester, Pettman, Steans, Peterson, dan Runyan, merupakan tokoh feminisme yang muncul pada generasi keempat ini. Mereka lebih berhati-hati dalam menggunakan analisis dan mulai mengaitkan feminisme pada perkembangan dunia internasional. Mereka juga memberikan wawasan baru tentang politik global.Kemudian didalam kajiannya Jaqui true membagi tiga bagian kelompok dari Feminisme. Pertama, Empirical feminism atau feminis empiris yang menurut Jaqui True lebih terfokus pada perempuan dan gender relation sebagai aspek empiris dari studi Hubungan Internasional. Feminisme empiris juga memaparkan dengan kerangka empiris mengenai penyebab wanita itu seringkali diabaikan dalam studi hubungan internasional. Selain itu juga dijelaskan juga Eksploitasi wanita sebagai akibat dari globalisasi ekonomi yang kemudian memunculkan ketidaksetaraan terhadap kaum wanita.

            Kedua, ada Analytical feminism atau feminis analitis. Kelompok ini mencoba untuk mendekonstruksikan kerangka teoritis hubungan internasional. Teori ini berusaha untuk  mengungkap adanya bias gender didalam konsep hubungan internasional.Jacqui True menjelaskan bahwa konsep dalam hubungan internasional  tidak bersifat alami atau netral. Dimana konsep tersebut dibangun karena adanya konteks sosial dan politik hegemonik maskulinitas. Konsep hegemonik maskulinitas kemudian diasosiasikan dengan kedaulatan, objektivitas, otonomi, dan universalisme. Dimana hal-hal tersebut tidak ada dalam konsep feminisme. Oleh karena itu, kelompok feminisime ini berusaha mendekonstruksi ulang perspektif mengenai maskulinitas dan feminitas yang ada karena konstruksi sosial.

            Kemudian bagian terakhir, feminis normatif. Adalah feminisme yang  menghubungkan analisa dan empiris. normative feminism beranggapan,  perbedaan gender bukan lagi dipandang dari terdapatnya hubungan maskulinitas dan feminis, melainkan berdasarkan politik ilmu pengetahuan dan siapa yang menduduki puncak hirarki dalam hubungan internasional.

            Kesimpulannya, teori feminisme memberikan kontribusi yang berarti dalam studi hubungan internasional. Teori feminisme ini menambah kajian dalam studi Hubungan Internasional dengan membawa gender study, sehingga dalam studi Hubungan internasional tidak hanya maskulinitas yang mendominasi. Selain itu dengan adanya Feminisme, PBB pada akhirnya membentuk UN Woman sebagai lembaga yang berwenang dalam hal tentang diskriminasi dan penindasan perempuan. Dengan lahirnya feminisme, banyak akhirnya wanita menjadi  pemimpin suatu negara,organisasi,atau lembaga nasional maupun internasional.Selain kontribusinya yang positif ,masih terdapat kekurangan dari adanya feminisme itu sendiri. Dalam tulisan Jaqui true, masih tidak ada kejelasan kesetaran seperti apa yang diinginkan oleh kaum feminis. Lalu kritik yang dilonarkan oleh kaum feminisme ini terlalu dominan dari  wanita belahan dunia  barat, karena tidak ada jaminan apa yang dilalui dan dirasakan oleh wanita di barat sama dengan wanita di negara-negara dunia ketiga

Comments