Apa sih itu Green Theory menurut perspektif hubungan internasional?

 Green Theory atau Green Political adalah sebuah pemikiran yang membahas tentang pentingnya mempreserved  lingkungan ditengah gencarnya negara – negara didunia melakukan pembangunan secara besar – besaran.

Literatur pertama tentang lingkungan yang muncul untuk menjelaskan tentang Green Theory adalah tulisan dari Rachel Carson yaitu Silent Spring yang ditulis tahun 1960.Di tulisan ini Rachel Carson bercerita bahwa kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan.Menurut Rachel Carson,pengggunaan pestisida yang berlebihan akan menggangu rantai makanan yang ada di lingkungan seperti ke hewan dan pada akhirnya ke manusia.Tulisan ini banyak dikritik oleh pengusaha zat kimia pada saat itu tetapi pada akhirnya tulisan ini juga yang menyadarkan pemerintah tentang buruknya zat kimia bagi kelangsungan makhluk hidup.Oleh karena itu pemerintah pada akhirnya melarang penggunaan pestisida atau zat kimia berbahaya lainnya. Ada juga tulisan yang berjudul Tragedy of the common yang menjelaskan tentang over-fishing,overfishing adalah tindakan mengekspolitasi biota laut secara berlebihan tanpa adanya tanggung jawab.

Namun,Literatur-literatur tersebut saat itu belum masuk ke pembahasan teori Hubungan Internasional.Pada saat itu sedang panas Great Debate antara Institusionalisme dengan behavioralisme yang berfokus pada modernisme.Modernisme ini sangat bertolak belakang dengan Green Theory,karena modernisme memfokuskan pada pembangunan.Di tahun 1970 an,isu lingkungan mulai sedikit dilirik oleh dengan adanya Stockholm confrention yang mendebatkan development vs environment,membahas tentang apa yang perlu diprioritaskan antara dua hal tersebut.Tentu saja saat itu yang menang adalah development,karena negara-negara sedang membangun kembali ekonomi mereka pasca great depression dan perang dunia ke 2.Tahun 1980,muncul sustainable development muncul,yaitu menyeimbangkan pembangunan dan lingkungan,tetapi banyak negara yang tidak mau mengorbankan kemajuan ekonominya sehingga ini menjadi tidak efektif.

Pada tahun 2000an,baru isu lingkungan masuk ke kajian hibungan internasional setelah mulai muncul ancaman-ancaman dari alam terhadap kelangsungan hidup manusia.Muncul kemudian apa yang dinamakan ecosentrism,econsentrism ini adalah Green Thought yang menolak antrophocentrism untuk membahas pendekatan ecocentricsm.Ecocentrism memiliki 4 features yang membedakan teori lain dalam memandang lingkungan.Pertama,mengakui semua kepentingan dari manusia di non-human world.Kedua,mengakui kepentingan dari aktor non-manusia.Ketiga,mengakui kepentingan dari generasi masa depan baik human ataupun non-human.Terakhir,lebih mengadopsi perpektif holistic dibanding atomistic.

Ada sebuah terms yang muncul pada saat itu yang bernama Global Ecology,term ini muncul pertama kali pada tulisan dari Wolfgang Sachs, Pratap Chatterjee ,Matthias Finger, Vandana Shiva, dan majalah The Ecologist and Third World Resurgence.Tulisan-tulisan itu berpendapat bahwa UNCED yang oleh banyak enviromentalis mainstream dianggap kesuksesan yang besar,adalah sebuah kegagalan pada pergerakan environmental,karena dianggap sebagai hasil akhir yang dibuat oleh para elit-elit saja.Fokus dari penulis-penulis ini adalah bahwa untuk menghasilkan sebuah peraturan mendasar untuk lingkungan ekologi harus terjadi perubahan sosial dan politik yang radikal untuk menjamin hal tersebut terjadi.

Kemudian ada yang namanya limit to growth.Limit to growth ini menjelaskan bahwa perkembangan jumlah umat manusia di bumi akan membawa krisis-krisis ke depannya.Mengapa bisa seperti itu? Karena seiring pertambahan jumlah penduduk dunia,resource juga akan semakin berkurang karena bentuk bumi yang dari dahulu tetap begitu saja tidak mengalami perubahan.Dari limit to growth inilah nanti lahir konsep sustainable development yang naik pertama kali tahun 1980 mulai muncul untuk diterapkan.

Terakhir ada desentralisasi yang dikemukakan oleh O’Riordan.Desentralisasi yang berawal dari komunitas-komunitas kecil yang akan mengatur sendiri penggunaan sumber daya agar tidak overused dan bisa mengarahkan energi manusia menjadi produktif dan konsumerisme secara presisi,kemudian komunitas-komunitas kecil ini harus dipandang berorientasi internasional,seperti kata-kata yang sering muncul “act locally,think globally”.

 

Pada tahun 1990an banyak literatur akademis yang mempertanyakan bagaimana komitmen kaum Green Theory terhadap  desentralisasi.Kritik pertama terhadap desentralisasi Green Theory adalah komunitas-komunitas kecil yang anarki ini terlalu sempit juga terbatas dan berpotensi mementingkan diri sendiri dalam mencapai situasi yang kondusif didalam kerjasama antar komunitas-komunitas yang ada.Dengan adanya politik di dalam komunitas yang memiliki interest masing-masing akan membuat mereka tidak concern dengan apa yang terjadi diluar wilayah mereka dan membuat individu-individu didalam komuniitas tersebut tertekan karena adanya batasan-batasan.Namun,kritik tersebut dijawab oleh kaum Green Theory sebagai bentuk kedaulatan yang juga ada pada negara.Dan yang hilang dari kritik ini adalah tidak ada political form yang menjamin bahwa suatu negara atau komunitas akan peduli dengan negara lainnya.

Kritik kedua adalah advokasi kaum Green theory tentang desentralisasi seperti menolak adanya negara yang berdaulat.Komunitas kecil yang terdesntralisasi akan memiliki peluang yang kecil untuk memecahkan masalah lingkungan global,padahal masalah itulah yang ingin dipecahkan oleh kaum Green Theory.Goodin berpendapat bahwa masalh lingkungan adalah masalah transnasonal dan masalah ini harus diselesaikan secara internasional adalah benar,tetapi pendapat bahwa negara berdaulatlah yang berwenang terlibat dalam pemecahan masalh itulah yang tidak bisa diterima oleh kaum Green Theory.

Kelemahan dari Green Theory ini adalah sulit diterapkan di masyarakat modern.Mengapa? seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa perekonomian akan sulit untuk ditukar dengan isu lingkungan.banyak negara terutama negara yang sedang membangun perekonomiannya atau negara berkembang untuk mengorbankan keuntungan perekonomian yang bisa mereka dapat hanya demi mementingkan isu lingkungan

Comments